Pondok pesantren Daar el-Qolam tidak berdiri langsung dengan kemegahan dan fasilitas yang kita saksikan pada hari ini. Daar el-Qolam tumbuh dan berkembang selaras dengan perjuangan yang tidak kenal lelah, perjuangan yang didasarkan atas niat ibadah untuk mencerdaskan kehidupan manusia, manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Beberapa tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia, H. Qasad Mansyur mendirikan sebuah lembaga pendidikan dasar yang diberi nama Madrasah Masyariqul Anwar (MMA). Dalam perjalanan selanjutnya, beliau berkeinginan agar alumninya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, H. Qasad Mansyur bermaksud menyekolahkan putra pertamanya Ahmad Rifa’i Arif di Pondok Modern Darussalam Gontor. Meski keinginan tersebut banyak mendapat tantangan, agar Rifa’i Arif tidak perlu pergi jauh menuntut ilmu, tetapi dengan azam yang kuat, dan pertimbangan yang matang beliau tetap istiqomah dengan niatnya, karena itu pada tahun 1958, Ahmad Rifa’i Arif diberangkatkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor, agar kelak ia bisa membuka lembaga pendidikan lebih tinggi dari yang didirikan ayahnya.
Ahmad Rifa’i Arif lahir di Gintung, 30 Desember 1942, anak pertama dari 12 bersaudara dari pasangan H. Qasad Mansyur dan Hj. Mastufah. Sejak kecil beliau ingin menjadi kyai, karenanya ia tekun belajar kepada sang ayah, kemudian memasuki Sekolah Rakyat pada tahun 1952 di Sumur Bandung sampai kelas 3. Pada tahun 1954, melanjutkan pendidikan dasarnya di Caringin Labuan, dan belajar mengaji kepada K.H. Sihabuddin Makmun, juga di Madrasah Masyarikul Anwar (MMA).
Di Gontor Ahmad Rifa’i Arif dikenal sebagai murid yang cerdas dan pandai berpidato. Pernah menjadi ketua umum Pelajar Islam Indonesia cabang Pondok Modern Gontor pada tahun 1963-1964, sampai beliau menamatkan pendidikannya di Gontor pada tahun 1964. karena kecakapannya, beliau diminta mengajar di almamaternya dan menjadi sekretaris pribadi gurunya K.H. Imam Zarkasyi selama 2 tahun.
Bermula dari sebuah dapur tua dan 1 hektar tanah daratan pemberian Hj. Pengki kepada H. Qasad Mansyur, K.H. Ahmad Rifa’i Arief memulai kiprahnya dalam lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang bernama Madrasatul Mualimin Al-Islamiyah (MMI) Daar el-Qolam. Dengan 22 anak didik yang tidak lain adalah adik-adiknya, saudara-saudaranya dan masyarakat sekitar Desa Pasir Gintung. Daar el-Qolam berdiri pada tanggal 27 Ramadhan 1388 H,. sementara awal dimulainya pendidikan pada tanggal 20 Januari 1968 M.
Didasarkan atas keinginan untuk mencetak kader pemimpin umat yang mu’min, muttaqin dan rasikhina fil ilmi, dunia pendidikan yang bernafaskan Islam ini terus berpacu dan berkembang seiring dengan perkembangan dunia pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Selaras dengan eksistensinya sebagai lembaga tafaquh fi diin, lembaga yang berdiri di atas dan untuk semua golongan.
Merayap penuh keyakinan, diiringin ketekunan dan kesabaran. Ahmad Rifa’i Arief terus berjuang menghadang tantangan, menghalau cobaan yang datang. Tidak sedikit tekanan fisik ia dapatkan, maupun beban perasaan yang ia rasakan. Bendera telah ia tancapkan, layar telah ia kembangkan, pantang baginya mundur surut ke belakang.
Beragam peristiwa dengan selaksa keprihatinan ia rasakan, bermandikan peluh dan tetes air mata. Bermodal keyakinan akan kekuasaan Tuhan, berlandaskan idealisme akan kekayaan Tuhan, ia terus berjalan menatap masa depan.
Perkembangan yang cepat mulai terlihat pada tahun 1982, ketika Daar el-Qolam mendapat bantuan dana sebesar Rp. 64.000.000,- dari Kerajaan Saudi Arabia, atas bantuan K.H. Muhammad Natsir tokoh Islam yang sangat disegani. Bantuan tersebut dipergunakan untuk membangun asrama putra yang kemudian diberi nama gedung Saudi.
Kepedulian Ahmad Rifa’i Arief terhadap dunia pendidikan tidak hanya terbatas pada Pondok Pesantren Daar el-Qolam saja. Pada tahun 1989 dicanangkan berdirinya Pondok Pesantren La Tansa yang proses pendidikannya dimulai pada tahun 1991. seiring dengan tuntutan zaman, Daar el-Qolam kembali melebarkan sayapnya dengan mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi La Tansa Mashira di Rangkasbitung. Dan juga mendirikan Pondok Pesantren Wisata Sakinah La Lahwa di Pantai Kemuning, Labuan, Banten yang pembangunan fisiknya dimulai pada tahun 1996.
Setelah Daar el-Qolam berkembang sesuai dengan cita-cita luhur H. Qasad Mansyur dan putra pertamanya. Madrasah Masyarikul Anwar yang menjadi cikal bakal Daar el-Qolam, diserahkan pengelolaannya kepada Drs. K.H. Ahmad Syanwani.
Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Suami tercinta dari Hj. Nenah Hasanah ini dipanggil menghadap keharibaan-Nya dalam usia 55 tahun, pada hari Ahad 10 Safar 1418 H bertepatan dengan tanggal 15 Juni 1997 M.
Meninggalkan 3 orang putra, 3 orang putri dan seorang cucu. Kepergiannya dirasakan terlalu cepat bagi orang-orang yang ditinggalkannya, yang masih mengharap sentuhan lembutnya, yang masih merindukan petuahnya yang menyejukan. Takdir tak dapat ditolak, ia pergi meninggalkan nama besar dengan segala keharumannya.
Pada hari Senin, 16 Juni 1997 diadakan rapat keluarga yang disaksikan oleh K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi pimpinan Pondok Modern Gontor, untuk menentukan pengganti beliau, berdasarkan amanah yang pernah almarhum sampaikan kepada kyai Syukri semasa hidupnya, maka pada hari selasa 17 Juni 1997 disertai derasnya hujan dan gemuruh petir yang menggelegar, dinobatkan Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin, Dra. Hj. Enah Huwaenah keduanya adalah adik sekaligus murid almarhum serta putranya K.H. Adrian Mafatihullah Karim sebagai pimpinan selanjutnya. Mereka bertiga mengemban amanat besar dan tanggung jawab untuk mempertahankan dan mengembangkan karya besar beliau. Kini K. H. Adrian Mafatihullah Karim diserahkan untuk memeimpin pondok pesantren La-Tansa sebagai cabang dari pesantren Daar El-Qolam. Di samping merealisasikan cita-cita almarhum yang berkeinginan memiliki 4 buah pesantren.
Kini pada usianya yang ke 44 Daar el-Qolam berdiri di atas 36 hektar tanah dangan sarana dan fasilitas yang ada di dalammya. Perkembangan yang pesat ini tidak lain atas perjuangan almarhum yang meninggalkan sistem disertai kebersamaan, dan komitmen berlandaskan amanat yang diembankan kepada komponen yang ada di dalamnya. Daar el-Qolam tidak boleh terkenal karena kyainya, Daar el-Qolam harus terkenal karena sistem yang ada di dalamnya. Begitulah pesan almarhum yang sering ia ungkapkan semasa hidupnya.
Semuanya tidak terlepas dari anugerah, karunia, dan barakah Allah SWT. “Jangan mencari banyak, tetapi carilah barakah Allah“. Demikian pula Ahmad Rifa’i Arief berpesan semasa hidupnya. Setelah beberapa tahun ditinggalkan pendirinya, Daar el-Qolam dan yang lainnya tetap eksis mengemban misinya, Daar el-Qolam terus berpacu dengan waktu membawa amanat dan kepercayaan umat. 44 tahun silam menjadi refleksi perjalanan panjang Daar el-Qolam, perjalanan yang dibalut suka dan duka yang menjadi cerita manis yang tetap terpatri di kedalaman hati, perjalanan yang tetap terkenang selama hayat di kandung badan.
Konten terkait
Pesantren is the genuine institution of Islamic education in Indonesia. It has grown and increased far before independence of Indonesia and became symbol of revolution against colonial.
There are two famous kinds of Pesantren. The first is traditional Pesantren (salafiy) which only teaches the religious study, non-classical system and single Kyai. The second is the modern one (khalafiy), which teach religious study, exact and social sciences and with classical system.
Daar el-Qolam is modern Pesantren established in 1968. The establishment of Daar el Qolam was the result of a long and exhausting struggle by KH. Ahmad Rifai Arief, a graduate of Modern Pesantren Darussalam Gontor and his father, K.H. Qashad Manshur.
Unlike Gontor, his previous school, Ahmad Rifai as the founder of Daar el-Qolam, tried to combine male and female students in one class during their class activities and paid serious attention not only in religious study but in exact and social sciences by integrating local curriculum and national curriculum. His “controversial” step brought him to be pioneer of new style of modern Pesantren in Banten.
In the early of its establishment, Ahmad Rifai had 22 students who were from his family and around Pesantren and became only 12 students in the following year. After many obstacles, the advances of Daar el-Qolam can be seen in 1980-es. In 1997, Ahmad Rifai passed away and was succeeded by his brother Ahmad Syahiduddin and his son Adrian Mafatihullah Kariem.
The vision and mission of Daar el-Qolam is to be prominent Pesantren at national and international levels that produces the graduates which labeled by mukminîn, muttaqîn and râskhîna fî-l-ilmi.
To gain these aims, Daar el-Qolam bases its programs on five pillars (Panca Jiwa) and Motto of Pondok. The five pillars of Pondok are Sincerity, Simplicity, Help-self, Islamic brotherhood and Freedom. The Motto of Pondok are Noble character, Sound body, Broad knowledge and Independent mind.
Now, in 44 years of its age, Daar el-Qolam has existed with 35 hectares area and more than 4000 students and 250 teachers who live together for 24 hours and come from all provinces in Indonesia.
Besides, Daar el-Qolam has been expanding its role in education by establishing College of Islamic Study (STAI) La Tansa Mashiro, College of Economic Study (STIE) La Tansa Mashiro and Midwife Academy (AKBID) La Tansa Mashiro with hundreds students, Pondok Pesantren La Tansa Mashiro with more than 2500 students, Excellent Class program and building a new campus “Dza Izza“.
Related content