• +62
  • [email protected]

    Artikel dan Berita Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Melepas Kepergian

    Januari segera berlalu. Maka dari itu aku mencatat kapan harus menemui suamiku. Aku harus segera melaju menebus rindu setelah ia pergi tiga puluh tiga purnama yang lalu. Aku selalu sedih ketika berganti kalender baru. Banyak tanggal-tanggal ganjil yang kulingkari sebagai pengobat memoar kesendirian. Ada yang tahu di mana stasiun yang melajukan kereta menebus rindu?

    Aku dengar Jakarta kini dalam keadaan sunyi, kota paling sepi. Semenjak kejadian kebakaran—bus fasilitas negara yang dianggap sudah tidak layak, kota itu cekam mendadak. Namun pagi ini aku tetap memutuskan pergi kembali ke kota itu. Kota yang dianggap paling biadab urusan lalu lintas dan kejahatan. Kota yang menjadi permulaan pertemuanku dengannya. Kota menyimpan kenangan awal yang dilumpuhkan asap dan deruan klakson kendaraan. Biarlah, aku mencecap kembali kenangan ini. Kenangan yang mengguncangkan hati dalam tiga puluh tiga purnama tiada henti.

    Ketika itu ia datang dengan muka tergesah. Matanya lekat dengan airmata. Ia memutuskan pergi merantau ke Jakarta sebagai pelebur bunga di sebuah pabrik parfum milik karib bapaknya. Mungkin ia lupa dengan janjinya, atau abai pada hantaran lekat bibirku ke keningnya. Hingga saat ini ia belum kembali. Belum sempat menebus janji.

    Aku masih menunggunya, barangkali ia datang sebelum senja memecah menjadi malam yang menggulita. Meskipun komunikasi melalui telepon masih berjalan. Kiriman nafkah bulanan selalu lancar. Lalu bagaimana soal kebutuhan rohani yang tak pernah digenapi? Saat itulah aku mulai menganggap bahwa cinta kami sudah tidak sehat. Mungkinkah luka ini berubah menjadi rindu, jika kesetiaan dihianati jarak yang didustakan janji?

    Laju kereta akan segera menebus rindu. Perjalananku masih membutuhkan waktu beberapa jam hingga sampai tujuan. Tertulis di tiket, aku akan sampai di Stasiun Senen pukul 05.00 Wib.

    Tiba-tiba gerimis tipis rinai perlahan membasahi jendela kereta kelas ekonomi. Aku masih memandang dengan mata penuh bayangan tentang dirinya. Aduh, betapa bahagianya ia jikalau mampu menikmati perjalanan sembari menatap hujan bersamaku. Pasti ia tahu bahwa aku sedang mengamati-melihat senyum rekahnya, mendengar lantunan senandung harapnya. Biasanya ia selalu berdoa—mengharap segala keinginan, keselamatan serta kesehatan kepada Tuhan ketika hujan.

    “Tuhan akan mendengar doamu, Sabrina. Berdoalah, selagi hujan belum reda” ucapnya.

    Ia menyatukan kedua telapak tangan, sambil terpejam dan merapal doa. Aku mencoba mengaburkan ingatan soal itu. Semakin aku mengingat kenangan dengannya, semakin dahsyat juga nyeri dada. Aku masih menikmati perjalanan. Setelah perpisahan itu—perihal kepergiannya bekerja di pabrik parfum ibadah, ingatanku tentangnya mendadak lenyap. Ah, terlalu banyak kenangan bersamanya sampai sulit menghapus satu persatu. Tentu aku harus mampu meski pelan-pelan akan berlalu. Iya terpaksa menghapus karena ia tak pernah datang. Tidak kunjung pulang ketika aku mengharapkan. Hanya setahun sekali ketika lebaran Idul Fitri. Terkadang kami saling berdiam dan menghindari pertemuan ketika deruan suara kereta sudah mendekati stasiun penantian. Bagaimana kita mampu menyatukan rindu, jika pertemuan selalu membawa kesunyian dan saling diam?

    Aku takut terjerumus di dalam neraka dan dikatakan istri yang membangkang, penghianat, kafir atau bedebah. Meski ia tidak pernah pulang, aku tetap memberi kabar manis untuknya; tentang anak kami ketika hendak makan sudah mampu mengucap bismillahirrahmanirrahim secara perlahan meskipun masih terbata-bata, mampu mengucap Alhamdulillah ketika bersendawa, tentang anak kami yang mampu menanyakan keberadaan bapaknya.

    Aku selalu bilang bahwa …bapakmu akan segera kembali, percayalah... Namun ia belum terlalu mengerti, maka ia hanya membalas dengan senyuman yang manis. Sementara aku selalu mengeluarkan air mata ketika ia menanyakan keberadaan bapaknya.

    Sudah sampai Stasiun Tegal. Kereta berhenti sejenak, menunggu dan mengangkut penumpang dengan tujuan yang sama atau justru berbeda. Tiba-tiba perempuan berparas cantik dengan rambut yang diikat manis duduk di depanku. Ia memakai jaket tebal berenda. Ia menatapku dengan senyuman yang manis. Bibirnya mungil, dengan polesan lipstik warna merah muda. Aku menerka lipstik itu seharga 125 ribu. Iya, itu mirip sekali dengan warna lipstik temanku. Ah…barangkali aku salah mengira bahwa itu tidak sama, lebih murah, atau justru lebih mahal dari yang kuterka.

    “Kau sendirian?” kata perempuan yang duduk di hadapanku.

    “Iya” jawabku sekenaknya.

    “Mau kemana?”

    “Ke Jakarta. Kau?”

    “Ke Cirebon. Hati-hati, sedang banyak kerusuhan di Jakarta.orang jahat menyebar di mana-mana!”

    “Aku tahu. Sudah kupikirkan sebelum berangkat”

    “Lantas? Apa yang hendak kau cari di sana?”

    Aku diam, masih menikmati hujan. Hujan kali ini turun bersama daun-daun kering di sepanjang tepi rel dengan jarak satu meteran. Sepanjang jalan yang menyimpan kegetiran yang tidak berkesudahan.

    “Ke Jakarta menemui siapa?”

    “Suamiku”

    “Kerja?”

    “Iya”

    “Kerja apa?

    Lama-lama aku menjadi malas dengan orang yang sok kenal, membuka-buka pertanyaan dalam suasana kalut seperti ini. Aku hanya tersenyum kecut. Perempuan itu terdiam kemudian mengeluarkan gadget. Mungkin ia melihat dari tatapan mata bahwa aku malas menanggapinya. Biar saja, aku tidak peduli. Tak lama kemudian perempuan itu turun. Sudah sejam berlalu kereta melaju menanggalkan bunyi lenking di Stasiun Cirebon.

    Aku telah sampai di Jakarta tepat waktu; sesuai yang tertulis di lembar tiket. Telah sampailah penukaran lelah menjadi rindu yang akan tuntas. Aku bergegas menemui suami. Kami sudah bersepakat bahwa pertemuan menebus rindu kali itu akan dirayakan di sebuah kedai kopi dekat atrium bus bersubsidi. Jantungku mendadak berdebar. Hatiku lega, berbunga seperti bunga tulip yang mewarnai kota. Betapa terkejutnya aku ketika turun dari bus itu. Kedai itu masih tertutup rapat. Aku bingung dengan suamiku. Mengapa ia tidak lebih dulu menungguku? Bahkan ia belum muncul menemuiku. Mengapa harus aku yang lebih dulu menunggu? Bukankah ia yang seharusnya menjemputku atau sekadar menunggu lebih dulu sebagai bukti bahwa ia juga akan menukar rindu? Ah mugkin suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya, atau ia sedang mempersiapkan pertemuan yang mengejutkan. Aku hanya melihat perempuan duduk di bangku depan kedai sendirian.

    Ia telah datang. Aku melihat senyumnya dari kejauhan melengkungkan kehangatan. Mengapa ia memilih pertemuan di kedai kopi? Apakah kedai itu menyediakan kopi kental pekat sepahit kenanganku?

    “Sabrina, maafkan aku. Aku tidak bisa lama” ia mengecupku.

    “Mengapa?”

    Ia menggenggam tanganku. Memelukku sekuat biasanya. Tiba-tiba mataku mencairkan air mata membasahi pipi. Ia menyapu air mataku. Menatap wajahku dalam-dalam.

    “Kau tampak cantik, Sayang” ucapnya.

    Aku tersenyum. Ia mengalihkan pembicaraan. Aku menatap wajahnya yang semakin berbeda. Brewok dan kumis yang semakin tebal. Ia mengenakan jubah hitam dan celana panjang di atas mata kaki, serta kepalanya yang diikat kain sorban warna putih. Aku menatap matanya yang sayu. Wajah yang penuh dengan lipatan-lipatan masalah. Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia derita sehingga ketampanannya tertutupi lipatan wajah?

    “Aku merindukanmu!” ucapku nyaris berbisik.

    “Iya aku paham soal itu. Begitu pula diriku yang merindukanmu dari tahun-tahun yang lalu. Mengapa kau tak mengajak anak kita?”

    “Aku takut ia sakit. Perjalanan sangat jauh. Biarlah kelak nanti kuceritakan bahwa aku usai menemui bapaknya yang perkasa. Biarlah ia bersama ibu menunggu kabar baik dari Jakarta. Kabar baik darimu”

    “Iya. Sekarang pulanglah, kembalilah. Jika tugas ini usai, secepat mungkin aku akan menyusul pulang. Hidup bahagia bersama kalian. Sampai kapanpun”

    Ia pergi setelah mengecup keningku. Pergi tergesah dengan memberikan aku segepok uang. Aku ingat betul, ketergesaannya seperti pertamakali kami berpisah sebelum ia memutuskan hendak merantau ke Jakarta sebagai pelebur bunga. Aku masih memandangi langkahnya. Memandang dari kejauhan bahwa ia telah menghampiri perempuan bercadar yang duduk di bangku halaman kedai yang masih tertutup. Seperti mengomat-kamitkan menyuruh perempuan itu pulang. Ah tidak mungkin. Aku selalu percaya soal kesetiaan.

    Perempuan itu pergi meninggalkan suamiku. Siapakah perempuan itu? Ah mungkin partner kerja, atau suamiku sekadar membuat janji untuk menawarkan parfum. Aku tak menghiraukan. Aku percaya soal kesetiaan.

    Aku pulang dengan hati lapang. Sementara suamiku justru duduk di depan kedai kopi. Ia meletakan tas ransel warna hitam di atas meja. Entah menunggu siapa lagi. Entah apa yang dinanti. Mungkin ia akan menawarkan beberapa parfum kepada pengunjung kedai kopi.

    Akan kuceritakan kepada anakku, bahwa bapaknya  yang tangguh sangat sayang dan peduli kepada anak dan istri. Bapaknya yang tak akan pernah kembali sampai kapanpun. Lebur dengan reruntuhan kedai kopi.

    Gintung, 12 Februari 2018

    Aksan Taqwin Embe adalah Guru Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Daar el-Qolam Tangerang. Ia termasuk 15 Emerging Writers Indonesian yang diundang dalam perhelatan internasional Ubud Writers and Readers Festival 2017. Buku kumpulan cerpennya bertajuk Gadis Pingitan. Selain mengajar dan menulis, ia saat ini sibuk mendidik santri dalam seni peran (teater dan film), musikalisasi puisi dan prosa fiksi  di Pondok Pesantren Daar el-Qolam Program Excellent Class Tangerang.

    Tags
    Penulis:

    Seorang guru di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2

    Leave a comment

    %d bloggers like this: