Motivasi. Mungkin itu yang kita butuhkan saat bekerja atau belajar. Setiap hari, kita bisa memperoleh motivasi dari apapun yang kita percayai. Agama, orang tua, guru, kekasih, sahabat, musuh, bahkan orang-orang yang usianya lebih muda dari kita. Saat memulai hari dengan motivasi, hidup terasa lebih ringan. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, motivasi yang kita miliki pun turun, sesuai dengan sifat motivasi itu sendiri, yazîdu wa yanqushu.
Tapi, apa sih motivasi itu? Wikipedia Bahasa Indonesia menyebutkan:
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.[1] Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan[2]
Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi.[2] Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.[2]
Oke, dalam definisi tersebut, seorang yang termotivasi memiliki arah yang sudah ia tentukan sendiri. Dengan memiliki arah, dengan ditambah kepercayaan yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang yang disekelilingnya, intensitasnya pun semakin tinggi, sehingga ketekunannya dalam bekerja pun semakin tinggi pula. Namun, ada beberapa hal yang bisa menurunkan motivasi seiring dengan berjalannya waktu, dan menurut pengalaman saya, berikut adalah hal-hal yang dapat menurunkan motivasi:
- Saya mendapati bahwa melakukan sesuatu tanpa tahu sebabnya menurunkan motivasi.
Ya, saya dahulu sering melakukan sesuatu tanpa tahu apa dasar filosofisnya. "Buat apa sih?", "Kenapa harus saya?", "Ngapain?" adalah pertanyaan yang sebaiknya muncul dalam pikiran saat hendak melakukan sesuatu yang kita belum tahu apa dasar filosofisnya. Saya dulu merasakan, boro-boro mau kerja secara termotivasi, bila masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran. Dan, tanpa mengetahui apa tujuan dari kita melakukan sesuatu, maka saya cenderung melakukannya dengan "asal-asalan". Mungkin Anda juga bernasib sama dengan saya?
- Saya mendapati bahwa ada sedikit saja ketidakpercayaan menurunkan motivasi.
Ketidakpercayaan muncul karena ada sesuatu yang mengganjal di hati atau pikiran. Saya dahulu pernah beberapa kali termotivasi karena janji yang diucapkan oleh sang motivator, tapi pada akhirnya kandas begitu saja akibat ada sesuatu hal yang tidak jadi dilaksanakan. Muncullah rasa ketidakpercayaan dalam diri saya terhadapnya, yang akhirnya membuat motivasi itu pun seolah lenyap tak berbekas. Mungkin Anda juga bernasib sama dengan saya?
- Saya mendapati bahwa favoritisme dapat menurunkan motivasi.
Favoritisme berarti mengunggulkan seseorang karena sesuatu hal yang dimilikinya, berdasarkan penilaian pribadi. Ini sering terjadi dalam keluarga, di mana sang kakak mendapatkan jatah lebih besar daripada sang adik, atau sang bungsu sering mendapatkan perhatian lebih daripada sang anak pertama. Ini juga lebih banyak terjadi lagi pada organisasi yang menggunakan skema top-down, di mana sang bawahan cenderung disukai oleh seorang atas karena beberapa hal tertentu, ketimbang bawahan yang lain. Yang termotivasi justru satu orang saja, tapi orang-orang selain dia bisa jadi kehilangan motivasi karena adanya favoritisme. Ujung-ujungnya bisa jadi Kolusi dan Nepotisme.
- Saya mendapati bahwa komunikasi satu arah dapat menurunkan motivasi.
Menerima pesan atau omongan dari atasan tanpa partisipasi yang cukup dari seorang bawahan membuat sang bawahan merasa dirinya tidak berpengaruh pada organisasi. Dengan kata lain, terjadi sebuah hal yang disebut dengan minder. Muncullah ketidakpercayaan diri dalam tubuh kita, yang akhirnya membuat kinerja kita jatuh akibat turunnya motivasi.
- Saya mendapati bahwa pekerjaan yang tidak dihargai dapat menurunkan motivasi sang pekerjanya.
Pekerja yang pekerjaannya sering tidak dihargai akan cenderung kehilangan motivasinya. Bila seorang pekerja kena marah, tanpa dibangun motivasinya kembali, maka bisa jadi muncullah ketidakbetahan dirinya di dalam organisasi tersebut. Saya pernah alami hal ini di tempat saya bekerja dahulu.
- Saya mendapati bahwa pekerjaan yang tidak memiliki tujuan yang jelas atau realistis dapat menurunkan motivasi.
Memang benar, membuat tujuan yang tinggi dapat membuat motivasi kita semakin tinggi pula, karena memang ada antusiasme dari kita sebagai pelakunya. Tapi, kadang, dengan melihat kondisi sekarang yang sudah tinggi lalu mencanangkan target dan tujuan yang terlalu tinggi dari kemampuan yang kita miliki, yang ada adalah kita menyerah sebelum menggapai target kita. Dan, itulah yang membuat kita kehilangan motivasi.
Nah, ada lagi yang mau menambahkan? Silakan sumbangkan pengalaman Anda via komentar atau e-mail ke willysaef@daarelqolam.ac.id (Willy Saefurrahman).
Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi...