Kenapa bisa gagal? 

Posted by Willy Saefurrahman | Tuesday, July 6, 2010 05:36:48 AM

Tulisan ini adalah saduran dari diari Willy Saefurrahman, tertanggal 14 November 2001.

Ada beberapa hal yang bisa membuat pekerjaan yang kita lakukan berakhir dengan kesuksesan atau bahkan kegagalan. Mungkin atasan kita menghendaki agar dirinya mengetahui kenapa bisa sukses atau kenapa bisa gagal. Sebagai seorang pengurus yang baik, kita harus memberikan sebab dan juga alasan kepada atasan kita, baik sebab kenapa kita sukses, atau kenapa kita gagal. Bila sukses, maka sebab yang melatarbelakangi kesuksesan kita bisa jadi digunakan untuk kesuksesan-kesuksesan selanjutnya. Dan, bila gagal, maka sebab yang melatarbelakangi kegagalan kita bisa dihindari sehingga tidak terjebak dalam jurang yang sama dua kali.

Sayangnya, beberapa alasan kegagalan yang kita utarakan bisa membuat atasan kita lebih kecewa, dan mungkin bisa membuat kita menjadi target. Nah, karena itulah, kita harus bisa menghindari diri kita menjadi "target" disalahkan alias kambing hitam atas kegagalan yang kita lakukan. Dan, tentu saja, di sini ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk menghindari hal tersebut sekaligus juga agar tidak mengacaukan pekerjaan kita.

Sebab nomor 1, kenapa kita bisa gagal: "Tidak paham tugas yang diberikan"

Tidak semua orang memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Seperti saya sendiri, contohnya, memiliki kemampuan komunikasi yang sangat buruk. Dan, tentu saja, memiliki atasan yang memiliki kemampuan komunikasi kurang baik saat menerangkan tugas yang hendak diberikan kepada kita, akan membuat hidup kita serasa lebih rumit. Dan, bila tidak memahami tugas yang diberikan, bisa jadi kegagalanlah yang akan menjadi ujung pekerjaan kita. Saat kegagalan menerpa kita, dan kita pun dimintai pertanggungan jawab atas kegagalan kita, secara jujur, kita pun memberikan alasan "Tidak paham tugas yang diberikan". Alasan ini, bukannya membebaskan kita dari masalah yang membelenggu, malahan lebih mencengkeram kita.

Nah, karena itulah, kita harus memahami secara serius dan benar apa tugas yang diberikan oleh atasan kepada kita, bagaimanapun caranya. Karena memang, biasanya yang namanya atasan memiliki sikap "tidak mau tahu"~tanda bahwa mereka mempercayakan seluruhnya kepada kita. Bila ada yang kurang jelas, maka seharusnya kita harus memahaminya dengan bertanya kepada siapapun yang mengetahuinya. Janganlah takut untuk bertanya, karena bertanya tidak merendahkan derajat kita.

Sebab nomor 2, kenapa bisa gagal: "Tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan"

Seorang atasan yang baik memang harus menjamin bawahannya memiliki sumber daya yang dibutuhkannya, mulai dari sumber daya waktu, sumber daya uang, dan mungkin juga sumber daya perangkat~selain tentunya sumber daya yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan primer kita. Nah, saat kita tidak mendapatkan sumber daya yang kita butuhkan, maka itulah saatnya atasan kita harus tahu keadaan tersebut, bukan pada saat kegagalan telah menerpa kita, cuma gara-gara tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan. Lebih cepat, jelas lebih baik, karena bisa saja dia memberikan apa yang kita butuhkan secara cepat. Yakinlah bahwa saat kita melapor kepada atasan secara lebih dini, bahwa kita tidak bekerja lantaran tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan, hal tersebut bukanlah sebuah alasan untuk menunda pekerjaan, justru merupakan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah. Lain halnya saat kita telah mengalami kegagalan, dan kita memberitahukan alasan ini kepada atasan. Itu merupakan sebuah kesalahan pribadi yang harus ditanggung sendiri.

Sebab nomor 3, kenapa bisa gagal: "Ada masalah pribadi"

Sebagai manusia, kita juga memiliki kehidupan pribadi. Ada kehidupan, pasti ada masalah. Dan, masalah tersebut mungkin saja semakin banyak seiring dengan waktu, apabila kita kurang rajin dan telaten dalam menyelesaikan masalah tersebut. Nah, di sisi lain, kita juga sebagai pengurus harus bisa memposisikan diri. Saat masalah-masalah pribadi kita yang semakin menumpuk justru membuat kesuksesan pekerjaan kita "tertunda", maka hidup kita pun semakin "tegang" alias stress. Kalau memang saat kita stres, terlihat oleh atasan kita, dan beliau bertanya, "Kenapa sih?", maka itu tandanya kita telah dianggap gagal oleh atasan, dan atasan pun memintai pertanggungan jawab dari kita. Saat kita menjawab dengan alasan "Ada masalah pribadi", maka saat itu pulalah atasan kita kecewa terhadap kita, karena kita tidak profesional dalam melaksanakan tugas.

Lalu, bagaimana caranya? Konsultasikan masalah kita kepada siapapun yang bisa kita percayai, sebelum menumpuk, sesegera mungkin, dan bila perlu kepada atasan kita, karena bisa jadi atasan kita memiliki solusi untuk masalah kita. Atasan kita mungkin akan mengurangi beban yang kita pikul dengan membagi tugas dengan orang lain.

Sebab nomor 4, kenapa bisa gagal:"Lagi nggak punya waktu"

Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi sukses tanpa bisa mengatur waktunya. Begitu pula pada pekerjaan yang kita sedang kerjakan. Uang yang berlimpah, sumber daya yang banyak, atau semangat yang tinggi seolah menjadi tidak bemakna saat tidak memiliki waktu. Ya, waktu adalah dimensi keempat kita.

Bila kita sedang sibuk sehingga tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan, akibat saking banyaknya tugas yang sudah dibebankan ke kita, maka sebaiknya beritahu atasan kalau kita tidak dapat melaksanakannya. Bila memang atasan tetap memaksa, maka itu adalah tanggung jawab dia bila memang terjadi masalah saat pekerjaan kita lakukan, karena kita telah mengutarakan bahwa kita tidak punya waktu. Tetapi, memang yang sering terjadi adalah, saat kita sendiri menyanggupi pekerjaan tersebut meski kita tidak punya waktu yang cukup, dan tidak memberitahu kepada atasan hal demikian. Itulah masalahnya kenapa gagal. Bila dahulu kita membeberkan masalah sedini mungkin, maka atasan pun dapat melakukan beberapa pengaturan seperlunya.

Sebab nomor 5, kenapa bisa gagal: "Nggak tahu kenapa bisa terjadi kesalahan"

Pekerjaan kita, serapi apapun, bisa jadi memiliki kesalahan dan kelemahan yang tidak kita sadari keberadaannya. Saat kita menganalisis kesalahan tersebut, kita pun mengetahui kalau kita tidak tahu apa yang menyebabkan pekerjaan kita gagal. Jadi, ketimbang kita bilang "Nah, ini niiih yang bikin kerjaan rontok", malah kita penasaran dengan apa yang terjadi, "Apaaa yaaa????". Rasa penasaran yang kita alami ini bisa terbawa hingga ke alam mimpi. Rasa penasaran ini mengganggu hidup kita. Yup, dan yang pasti, rasa penasaran ini membuat kita malu. Sebab kenapa pekerjaan kita gagal tidak kita ketahui, tapi semua orang pasti tahu kalau pekerjaan kita gagal.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Sebaiknya kita beritahu semua orang yang tahu problem dalam pekerjaan kita, bahwa pekerjaan kita telah sedikit "melenceng" dari jalan yang seharusnya, meski kita tidak tahu kenapa sebabnya.

Sebab nomor 6, kenapa bisa gagal: "Ada aja masalah!!!"

Yah, eksklamasi itu bisa jadi berlebihan, tapi nyata. Saya sering membuat eksklamasi seperti itu saat terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan di dalam pekerjaan. Dan, bisa jadi, sesuatu tersebut membuat pekerjaan kita jauh dari kesuksesan. Pekerjaan jadi telat. Pekerjaan jadi tidak rapi. Dan lain-lain. Yang pasti atasan kita tahu, kalau pekerjaan kita kurang begitu bagus, dan mungkin dikategorikan sebagai sebuah kegagalan. Nah, yang membuat agak menyesakkan dada adalah saat masalah tersebut datang pada saat-saat terakhir pekerjaan tersebut diselesaikan. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Lanjutkan saja, dan beritahu yang lain kalau pekerjaan kita sedang dirundung masalah, dan tentu saja buat beberapa langkah agar kemudian nanti tidak melakukannya lagi.


Nah, bila memang gagal, jangan meratapi kegagalan tersebut. Bila nasi sudah jadi bubur, buatlah bubur tersebut enak untuk dimakan. Oke?

Copyright©2010 Pondok Pesantren Daar el-Qolam. All rights reserved.
Have anything to post? Why don't you send it to website_tim@hotmail.co.id?.
Share This Using Popular Bookmarking Services