diari Willy Saefurrahman, 15 Februari 2009
Jadi keras kepala mungkin bagi beberapa orang dianggap sebagai menjadi diri sendiri. Mereka cenderung berpegang teguh kepada posisi di mana mereka sekarang berada, karena memang mereka tidak melihat ada opsi yang lain. Apakah perilaku "keras kepala" adalah sebuah hal yang salah?
Bagi saya tidak ada yang salah sama sekali dengan sikap seperti ini, tapi sayangnya sikap ini justru mempengaruhi orang lain, biasanya dalam berbagai jalan yang kurang positif. Akhirnya, sebagian besar kawan, rekan, atau orang lain pun menjauhi orang-orang keras kepala. Nah, dari mana sih muncul perilaku keras kepala?
Perilaku keras kepala muncul sebagai mekanisme pembelaan diri
Sebagian besar orang yang keras kepala memang memiliki prinsip yang kuat. Mereka cenderung mempertahankan apapun yang mereka pegang teguh, yang biasanya merupakan sesuatu yang sangat penting, dengan segala cara. Yeah, bahkan bila mungkin bagi orang lain tidak menganggapnya penting, bagi orang-orang keras kepala, hal itu adalah sangat penting. Orang-orang yang demikian, memiliki kepercayaan bahwa bila mereka bergoyang dari posisi di mana mereka sekarang berada, mereka yakin bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Perilaku keras kepala biasanya merupakan jalan buntu
Saat seseorang memutuskan menjadi seorang yang keras kepala, maka mereka sebenarnya memojokkan diri mereka di pojok, sendirian. Secara umum, mereka tidak dapat mengembangkan diri lagi secara lebih besar lagi, karena memang pikiran mereka telah terbatasi oleh batasan yang mereka buat sendiri. Cara pandangnya pun menjadi lebih sempit, dan mungkin tidak bisa menemukan opsi lain yang sebenarnya ada, tapi karena mereka tidak mencarinya, maka mereka pun tidak menemukannya.
Lalu, apakah perilaku keras kepala adalah sebuah kesalahan?
Orang yang keras kepala sering berpikir kalau diri mereka adalah benar adanya. Tapi, kalau secara konsensus dipikir-pikir, mana yang salah dan mana yang benar? Kita biasanya mengukur mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan hasilnya, apakah menawarkan hasil positif, atau hasil negatif. Memang, beberapa perilaku keras kepala justru membuat beberapa "jatuh ke dalam jurang", tapi banyak juga yang membuat sukses. Dan, meskipun "jatuh ke dalam jurang", saya juga tidak yakin apakah orang yang demikian, merasakan kerumitan yang mereka dapatkan dari perilaku mereka yang keras kepala. Mereka juga mungkin mau rela hidup dengan cara yang menyedihkan hanya untuk membuktikan bahwa cara pandang dirinya adalah benar adanya.
Perilaku keras kepala memang sebuah tantangan yang benar-benar berat, apalagi bila hal itu dimiliki oleh orang-orang yang memiliki jabatan tinggi atau orang yang sangat dekat dengan kita, seperti orang tua, kekasih, guru, atau sahabat. Pasti ada cara untuk menghadapi orang-orang seperti mereka. Bisa jadi, untuk mengurangi sikap keras kepala adalah dengan "mengganggu" perilaku mereka dan juga keyakinan yang mengarah pada situasi seperti itu. Namun, kita juga bila menghadapi mereka, harus berjibaku menghadapi kegigihan dan kekeraskepalaan mereka, dan juga kita harus memiliki prinsip yang juga keras. Bisa jadi, justru prinsip kitalah yang mengalami degradasi kualitas, atau bahkan kita sendiri yang "kalah" dalam berdebat dengan orang yang keras kepala.
Ada ayat yang bisa kita gunakan sebagai landasan pemikiran untuk menghadapi mereka, yakni surat al-`Ashr Ayat 3:
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَواْ بِٱلحَقِّ وَتَوَاصَواْ بِٱلصَّبرِ (٣)
...Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
Kerugian akan kita dapatkan saat tidak mendengarkan taushiyah kepada kebenaran dan tausiyah kepada kesabaran. Karena memang kesabaran adalah kunci dari kebahagiaan.
Allahu A`lamu bi-s-shawabi