Pernah baca beberapa buku tentang "self-healing"? Self-healing adalah kemampuan tubuh manusia untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dan, salah satu yang dipercaya dapat melakukannya adalah kekuatan pikiran. Berpikir positif adalah caranya. Dan bagaimana cara mencapainya adalah dengan menggunakan "dialog dengan diri sendiri". Percakapan internal tersebut adalah hal yang membuat kita memberitahukan kepada diri kita untuk melakukan sesuatu, untuk bereaksi, atau tidak melakukan seuatu, dalam beberapa keadaan tertentu. Dan "percakapan" itulah yang memotivasi kita.
Well, ibarat menanam sebuah pohon, masing-masing dari kita telah memiliki benihnya, tinggal bagaimana kita dalam mengurusinya dan merawatnya hingga benar-benar bisa menahan segala goncangan dan terpaan angin. Benihnya sudah ada dalam tubuh kita semenjak kita kecil, dan seiring dengan waktu kita juga bisa menambah benih-benih tersebut melalui interaksi dengan beberapa orang dalam kehidupan kita sendiri, dan tentu saja komunitas sosial. Saat ada orang yang memberikan kita motivasi, baik atau buruk, maka saat itu juga sebiji benih tertanam dalam benak kita. Termasuk dari diri kita sendiri.
Mungkin ada beberapa orang yang merasakan sangat berat sekali dalam menjalani kehidupan mereka, seolah-olah mereka adalah orang yang paling merana sejagad. Dan, ada pula yang merasakan ringan dalam menghadapi masalah dalam kehidupan kita. Dan, bukanlah sebuah kebetulan, bila memang mereka dapat mempengaruhi situasi mereka sendiri hingga taraf tertentu melalui fokus pikiran mereka. Dan, memang apapun yang kita lakukan bersumber dari pikiran yang kita keluarkan.
Banyak pernyataan negatif dapat membuat situasi kita lebih buruk daripada yang sebenarnya, dan itu lebih bahaya ketimbang penyakit sebenarnya. Selain itu juga, saat percakapan internal kita yang berujung pada hal yang negatif, justru membuat kita jauh lebih panik, depresi, dan semakin terpuruk. Ini persis seperti yang difirmankan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 10 :
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا...
Artinya
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakitnya...
Percakapan internal tersebut memang ada yang tampak dan ada yang tidak tampak dalam kehidupan kita. Ada juga yang sengaja menyembunyikan percakapa internal tersebut hingga yang muncul adalah kegundahan hati, yang justru adalah pupuk kesuburan penyakit. Beberapa pernyataan seperti "Aaarghh... Aku nyerah!", "Aku benci pekerjaan ini!", "Bosen di _______. Aargh pengen pulang!!!", "Kalau saja ada _______, aku bisa ________" adalah benih dari penyakit yang ada dalam diri kita. Nah, pernahkah kita mengucapkan hal-hal tersebut??? Saya pribadi, sering mengatakannya.
Lalu bagaimana caranya untuk meringankan beban hidup? Ada beberapa cara yang pernah saya lakukan selama ini, dan memang saya menggunakan cara yang umum dipakai, dan saya juga belum tahu apakah cara yang saya gunakan benar atau tidak, yang jelas, saya merasakan bahwa saat melakukannya, serasa hidup lebih ringan dari sebelumnya:
Menulis pernyataan negatif yang keluar dari dalam pikiran kita.
Beberapa artikel yang aku tulis di sini sebagian memang bersumber dari pengalaman setiap hari. Positif ataupun negatif. Nah, bila kita menyimpan pernyataan negatif dalam pikiran kita, maka saat itu pula kita memberinya pupuk untuk kemudian berkembang secara liar. Karena itu, lupakanlah terlebih dahulu, tapi jangan lupakan bahwa masalah pasti ada solusinya. Salah satu cara untuk mengingatnya kembali adalah dengan cara membaca tulisan kita. Pada akhirnya nanti, kita akan tahu, seberapa seringkah diri kita menggunakan pernyataan negatif seperti itu, dan mungkin mempengaruhi kondisi kita dalam kehidupan. Dan, dengan menggunakan prinsip 5-why (dan banyak cara lagi yang bisa kita gunakan), bisa saja kita kembangkan dan cari solusi masalah kita.
Ubah "arah dialog"
Bila sekarang kita telah tahu apa yang membuat kita berpikir negatif, dan mencoba untuk cari solusi, maka saat itu juga kita sebaiknya mengubah arah dialog. Memang bukan proses yang langsung jadi, tapi seiring dengan waktu, kita pasti bisa. Ingat, dalam diri kita ada dua hal yang saling berseberangan: Good and Evil. Positive and Negative. Bila kita berjalan satu arah saja, khususnya ke arah yang negatif, maka yang positifnya juga akan cenderung kehilangan arah dan akhirnya terjerumus ke dalam arah negatif pula. Kesadaran adalah langkah pertama untuk mengubah arah dialog kita. Lawan pikiran negatif dengan perkataan negatif, meskipun itu berat. Satu pernyataan negatif, mungkin dibutuhkan Empat pernyataan positif untuk menyeimbangkannya. Itu berarti kita harus menekankan lebih banyak lagi kemampuan kita untuk mengubah arah dialog kita.
Ikhlas dan Sabar
Ikhlas dan Sabar adalah sehat, karena orang yang sehat adalah orang yang ikhlas serta sabar. Ikhlas juga sebenarnya adalah statemen positif dalam diri kita yang bisa membuat beban hidup lebih ringan. Contoh dari keikhlasan adalah, saat kita menerima sesuatu apa adanya, tidak meminta lebih banyak dari apa yang kita dapati. Complete acceptance. Atau juga memberi apa-adanya, tidak berlebihan hingga membuat kita bangkrut. Bertingkahlaku apa-adanya, tidak berlebihan.
Semakin banyak pernyataan negatif yang kita lawan dengan pernyataan yang bersumber dari ikhlas dan sabar, maka akan semakin ringan dan mudah dalam menghalau pernyataan negatif yang kita buat. Dan, bisa jadi, statemen negatif itu pun mungkin tidak keluar dari mulut kita. Kita akan merasakan, sungguh sulit berpikir negatif manakala kesyukuran, ikhlas, dan sabar sudah menjadi kekuatan kita untuk menjadi spirit being. Dan, spirit kita adalah sesuatu yang ringan, seringan pikiran kita...
Allahu a`lamu bi-s-shawab...