Diari Willy Saefurrahman, 18 Agustus 2007
Setiap hari, kita membuat banyak sekali pilihan dalam hidup. Saat mencari solusi (problem solving), kita cenderung membuat banyak pilihan, ketimbang membuat sedikit pilihan. Saat berdiskusi dan melakukan brainstorming, kita juga membuat banyak pilihan. Kadang, pilihan tersebut memiliki efek yang signifikan untuk kelangsungan hidup kita. Nah, apa yang terjadi saat kita memiliki banyak pilihan???
Memang enak memiliki banyak pilihan, hidup lebih leluasa, karena saya sepenuhnya percaya bahwa hidup adalah pilihan. Akan tetapi, memiliki banyak pilihan juga sebenarnya bisa membuat pusing kepala lho, kalau memang kita tidak tahu dan tidak dapat memanfaatkan pilihan-pilihan tersebut menjadi sebuah kesempatan untuk menuju kesuksesan.
Lagi pula, saat memiliki banyak pilihan yang membuat pusing kepala, akan cenderung mengurangi semangat kita untuk bekerja, karena selama ini saya bekerja dengan menggunakan prinsip "single-tasking"~satu kerjaan dalam satu waktu. Saat semangat sudah turun, maka yang terjadi adalah kehilangan komitmen dan konsistensi dalam melakukan pekerjaan. Hmm, kemarin salah satu guruku, mengakhiri masa lajang dengan menikah. Nah, pernikahan adalah salah satu komitmen yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Saat sepasang kekasih melakukan pernikahan, maka mereka secara otomatis mengeliminasi pilihan mereka. Sangatlah tidak etis melakukan satu hal sementara di pikiran kita ada hal lain yang akan dikerjakan dalam ranah yang sama.
Banyaknya pilihan itu haruslah kita pilih salah satunya. Dan, saat kita memilih salah satu untuk dijadikan pilihan kita, maka kita secara otomatis membunuh semua alternatif pilihan yang tersedia. Nah, itu dia sebabnya kenapa saya merasa sulit untuk menentukan sebuah pilihan.
Tapi, dulu saya mengingat kata guru saya di Gintung, sewaktu kelas 2, saat Kuliah Etiket Akhir Tahun oleh Ust. Jemi Adriadi "kesuksesan adalah saat kita berani mengeliminasi semua alternatif pilihan yang ada, dan komitmen terhadap apapun yang kita pilih dari alternatif tersebut". Dengan kata lain, dengan mempertahankan semua alternatif pilihan yang ada, justru akan semakin membuat tegang pikiran kita, menghentikan perkembangan kehidupan dan kesuksesan kita dan tentu saja meningkatkan status quo.
Allâhu a`lamu bi-s-shawâbi