Ubuntu 10.04 merupakan versi paling baru dari Ubuntu Linux, yang memiliki desain yang "user-friendly", tapi tetap memiliki keamanan yang sulit untuk ditembus. Sistem operasi ini bisa digunakan baik sebagai server, maupun juga sebagai klien biasa, sehingga, bisa dikatakan kalau sistem operasi ini adalah sistem operasi All-in-One. Tapi, sebagai pengguna pemula Linux, saya hendak berbagi pengalaman tentang suka dan duka menggunakan Ubuntu Linux 10.04 (Lucid Lynx).
Yang aku suka: Gnome
Gnome yang digunakan dalam Ubuntu Linux 10.04 adalah Gnome 2.30, versi yang sudah sangat matang sekali, dan menurut situs Gnome, versi ini adalah versi terakhir untuk versi 2.x, sebelum transisis ke versi 3.0. KDE 4 juga bagus, tapi saya lebih suka melihat tampilan Gnome yang lebih simplistik.
Yang aku suka: Booting yang cepat
Ubuntu 10.04 melakukan proses booting yang cepat. Bila dibandingkan dengan versi 9.10 (Karmic Koala). Pada komputer PC yang aku gunakan, Intel Pentium Dual Core E2180 (2 GHz) dan memori hanya 2 GB, aku dapat booting dengan cepat, secepat Windows 7 yang juga ada di mesin yang sama
. Ini dimungkinkan karena Ubuntu memang membuang komponen Hardware Abstraction Layer (HAL) saat proses booting dilakukan, sehingga lebih cepat secara drastis.
Yang aku tidak suka: Driver NVIDIA diganti dengan Nouveau
Penggunaan driver yang tepat adalah kunci untuk memperoleh performa tinggi dari komputer, apapun sistem operasi yang kita gunakan. Ubuntu 10.04 datang dengan driver untuk video card berchip NVIDIA yang dibuat oleh pihak ketiga: Nouveau (open source memang
), bukan oleh para desainer chip itu sendiri. Well, memang fitur tiga dimensi bisa digunakan dengan benar, tapi bila dibandingkan dengan driver NVIDIA yang asli, kinerjanya sangat jauh sekali
. Akhirnya, saya harus menggunakan driver resmi dari NVIDIA, dan fungsi tiga dimensi pun kembali full speed.
. Saya mungkin menunggu driver dari Nouveau hingga matang sampai saya bisa menggunakannya untuk kepentingan sehari-hari.
Yang aku tidak suka: Tidak ada SAMBA
SAMBA tidak ada? Well ya, tidak disertakan secara out-of-the-box dari paket Ubuntu 10.04. Memang kita bisa menginstalasikan Samba secara mudah dengan menggunakan Ubuntu Software Center, tapi dalam lingkungan komputasi yang menggunakan Windows, Samba menjadi sebuah hal yang wajib. Sebelumnya, saya menggunakan OpenSuse 11.1, dan semuanya terinstalasi out-of-the-box, sehingga komputer Linux pun bisa menjadi sebuah file-server, tanpa banyak melakukan konfigurasi. Hmmm, mungkin ini adalah salah satu sebab kenapa bootingnya jadi cepat: membuang protocol handler. Tapi, kalau ada yang dikorbanin, mending gak usah.
Yang aku tidak ada suka: Tidak ada GIMP
GIMP adalah "Photoshop"-nya Linux. Keren memang, dan secara default, hampir semua distro Linux menyertakannya, tapi tidak pada Ubuntu 10.04. Memang gampang untuk diinstalasikan via Ubuntu Software Center, tapi, kenapa tidak out-of-the-box untuk mengejar ke-"user-friendly"-annya?
Yang aku suka: Sound Control lebih baik
Ubuntu Sound Control 10.04 jauh lebih baik daripada versi-versi sebelumnya. Namanya adalah Pulse Audio. Versinya sekarang sudah matang dan tentu saja sudah banyak menawarkan peningkatan yang drastis. Di dalamnya kita dapat mengontrol volume, SP/DIF, input/output, dan juga hardware audio dari satu lokasi saja. Kereen!
Yang aku tidak suka: Tidak ada Google Chrome
Menggunakan open source berarti bisa kita kustomisasi paket software secara lebih mudah. Tapi, pilihan software yang baik, atau mungkin yang terbaik, bisa lebih memanjakan pengguna. Google Chrome adalah browser open source terbaik saat ini. Paling cepat. Paling aman (dalam kontes hacking Pwn2Own menjadi "last browser standing"). Daripada menggunakan Firefox, saya personal lebih memilih Google Chrome di Linux. 
Yang aku tidak suka: Tidak ada init
Ubuntu 10.04 memang sudah didesain sedemikian rupa agar lebih mudah, dan salah satu caranya adalah dengan meminimalisir akses ke command line (console). Tapi, dengan menghilangkan init, berarti para pengguna Linux veteran akan kehilangan cara yang mudah untuk melakukan manajemen daemon. Tidak ada lagi /etc/init.d/networking restart atau /etc/init.d/networking stop. Yang ada adalah service network restart atau service network stop. Transisinya jadi agak ribet sedikit. (heheehehee). Aku memang pemula di Ubuntu 10.04, tapi sebelumnya aku telah lama menggunakan Linux.