Belajar akan lebih sulit bila kita sudah "merasa sukses" 

Posted by Willy Saefurrahman | Thursday, June 17, 2010 A.D. (12:32:10 AM)

لَوْ كاَنَ الْعِلْمُ يُدْرَكُ بِالْمُنَى ماَ كَانَ يَبْقَى فِي اْلبَرِيَةِ جَاهِلٌ

اجْهَدْ وَ لاَ تَكْسَلْ وَ لاَ تَكُ غاَفِلاً فَنَداَمَةُ اْلعُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ

Arti syair di atas secara harafiahnya adalah: "Seandainya ilmu itu bisa diperoleh dengan cara mengandai-andai, maka tidak bakal ada manusia yang bodoh; Maka, bersungguh-sungguhlan dalam mencari ilmu, dan jangan bermalas-malasan, dan jangan pula lalai, karena penyesalan adalah hasil yang akan didapat oleh orang yang bermalas-malasan."

Syair di atas menunjukkan pentingnya bersungguh-sungguh saat mencari ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang hanya bisa didapatkan dengan kerja keras, karena saya percaya penuh bahwa ilmu adalah cahaya yang diberikan Tuhan. Tuhan, tidak akan memberikan ilmu kepada seseorang secara cuma-cuma tanpa usaha yang keras untuk mendapatkannya. Lebih lanjut lagi, Tuhan juga tidak akan memberikan ilmu kepada orang yang membangkang dan tidak percaya terhadap ilmu itu sendiri.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencari ilmu. Bisa dengan membaca. Bisa dengan mendengarkan. Bisa dengan berdiskusi. Bisa dengan menulis. Bisa dengan meditasi. Bisa dengan berkhalwat. Bisa dengan berbicara. Bisa dengan mencoba. Bisa juga dengan mencari sendiri dengan menggunakan intuisi yang kita miliki. Macam-macam. Namun yang pasti, ilmu pasti akan kita dapatkan, terlepas dari kadar dan intensitas ilmu itu sendiri yang mampu kita serap.

Seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman, ilmu pun semakin banyak kita raih. Mendapatkan ilmu, kadang membuat kita merasakan diri kita telah sukses. Banyak parameter yang membuat diri kita "sukses": nilai yang tinggi, diakui oleh teman, disegani oleh lawan, atau banyak lagi parameter lainnya. Namun, sebagian besar dari kita justru terbuai dengan kesuksesan itu sendiri dan membuat kita lalai akan pentingnya bersungguh-sungguh dalam belajar.

Akhirnya, yang terjadi adalah kita menjadi sombong akan ilmu yang kita raih, padahal kadar dan intensitasnya yang masih sedikit. Arogan, meski mendapatkan kesuksesan yang tidak seberapa. Dan, yang lebih parah adalah dengan kesuksesan itu, justru kita tidak mau belajar lagi, seolah ilmu yang ada di dunia ini telah dikuasai. Na`ûdzu bi-l-llâhi min dzâlika...

Ilmu adalah cahaya. Menurut ilmu Fisika, cahaya yang dipancarkan ke segala arah bisa dipantulkan atau bisa juga diserap. Dari 100% cahaya yang mengenai sebuah objek, ada beberapa persen yang diserap oleh objek tersebut dan sisanya adalah yang dipantulkan. Cahaya yang dipantulkan itulah yang bisa dilihat oleh mata kita. Bila intensitas cahaya yang dipantulkan oleh sebuah objek besar, maka yang terjadi adalah mata kita terlalu silau untuk melihatnya. Akan tetapi, bila intensitas cahaya yang dipantulkan oleh sebuah objek cukup berimbang, maka mata kita pun akan bisa melihat objek tersebut dengan cukup jelas, karena sebagian cahaya telah diserap olehnya.

Cahaya yang menyilaukan tidak enak dipandang. Itu adalah ciri orang sombong dengan ilmunya. Cahaya yang redup juga tidak enak untuk digunakan, itu adalah orang yang tak mau berbagi ilmu. Orang yang alim adalah orang yang terus-menerus memberikan cahaya kepada orang lain, selain dia juga dapat memproduksi cahaya sendiri, sehingga cahayanya tidak redup.

Saya sangat percaya sekali dengan hal ini. Akhirnya, salah satu cara agar kita mampu memproduksi cahaya ilmu adalah dengan membuat generator cahaya ilmu itu sendiri: Bersungguh-sungguh saat belajar, tidak bermalas-malasan, dan tentunya tidak lalai akan kesuksesan yang kita raih. Tidak ada kesuksesan dalam belajar, sebelum kita masuk ke liang kubur, karena merasa sukses dalam adalah satu langkah menuju liang kubur...

وَ مَنْ فَاتَهُ الْتَّـعْلِيْمُ وَقْتَ شَباَبِهِ، فَكَـبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعاً لِوَفاَتِهِ

Copyright © 2009-2010
Share This Using Popular Bookmarking Services