قَالَ اْلإِمَامُ الْشَّافِعِيُّ: شَكَوْتُ إِلىَ وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ. فَأَرْشَدَنِيْ إِلىَ تَرْكِ اْلمَعاَصِيْ وَ أَخْـبَرَنِيْ بِأَنَّ اْلعِلْمَ نُوْرٌ، وَ نُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَاصِيْ
Imam Syafi'i berkata: Saya dahulu pernah melaporkan keluhan saya karena saya merasa sulit dalam menghapal kepada guru saya, Waki` (bin al-Jarrah). Maka, guru saya memberikan pencerahan agar saya meninggalkan maksiat, dan juga memberitahu bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang melakukan maksiat (dikutip dari Pelajaran Mahfuzhât, kelas 2, Pondok Pesantren Daar el-Qolam)
Kisah di atas, menunjukkan kesulitan yang dimiliki oleh sang Imam, kepada gurunya, yang merupakan salah satu ahli penghafal hadîts Rasûlullâh SAW, padahal konon dulu sang Imam telah hafal al-Quran saat usianya masih teramat belia. Ada apakah pada dirinya? Dahulu, beliau dapat menghapal al-Quran dengan cepat, tapi kenapa dirinya kini mengalami kesulitan dalam menghapal? Usia dapat menjadi sebuah sebab, tapi kita abaikan dahulu faktor usia. Apa yang dilakukan beliau dahulu adalah karena beliau percaya sepenuhnya dengan apa yang dihapalnya...
Menghafal adalah salah satu hal dari beberapa proses belajar untuk memahami sebuah ilmu. Lantas, saat kita menghafal, maka akan ada proses untuk mengulang-ulang apa yang hendak kita hafalkan. Bila saja ada ketidaksinkronan yang terjadi dalam tubuh kita, maka saat itu pula menghafal menjadi sangat rumit.
Ketidakpercayaan terhadap apapun yang berkaitan dengan apa yang kita hafal bisa menimbulkan ketidaksinkronan dalam tubuh kita, yang berujung pada kesulitan kita dalam belajar. Ketidakpercayaan terhadap sumber, ketidakpercayaan terhadap siapa yang mengajarkannya, ketidakpercayaan terhadap cara penyampaiannya, dan mungkin masih banyak ketidakpercayaan kita yang muncul saat kita sedang belajar. Dan, itu adalah gangguan yang muncul saat kita sedang serius belajar dengan konsentrasi. Gangguan terhadap konsentrasi belajar, bisa dianggap sama dengan gangguan terhadap kekhusyu'an beribadah, dan saat kita kalah dengan gangguan yang terjadi, maka kita telah melakukan sebuah hal maksiat, karena kita telah berpaling dari yang seharusnya dilakukan. Bila sedang belajar, maka belajar kita haruslah dengan serius serta konsentrasi, agar hafalan pun dapat lebih masuk ke dalam pikiran dan hati kita.
Kini yang terjadi pada diri kita justru seringnya kita tidak percaya, yang itu membuat kita merasa sulit untuk belajar. Dahulu, waktu kita kelas 1 di Pondok, kenapa sih pelajaran bisa kita tangkap dengan relatif mudah, hafalan bisa kita dapatkan dengan relatif ringan? Itu karena, menurut saya, kita masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap Pondok. Berbeda dengan saat kita sekarang, yang mungkin merasakan ketidakbetahan, yang bersumber dari ketidakpercayaan terhadap pendidikan yang dilakukan di Pondok. Akhirnya, kita pun merasakan diri kita sulit dalam menghafal, seperti halnya kisah Imam Syafi`i di atas.
Nah, kini apa yang harus kita lakukan agar lebih mudah dalam belajar? Kita harus dapat lebih percaya. Skeptisisme memang perlu, saat dibutuhkan. Tapi, untuk beberapa hal, kepercayaanlah yang harus kita tanamkan dalam-dalam di dalam jiwa kita, agar tentunya kita mendapatkan cahaya Allah, yang tidak diberikan kepada orang yang melakukan maksiat saat belajar. Orang yang tidak percaya pada ilmu...
Allahu a`lamu bi-s-shawabi
Nb.
Tulisan ini adalah tulisan Willy Saefurrahman saat menjadi santri kelas 6 di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, tertanggal 23 Juli 2001. Pernah didiskusikan dalam organisasi Fordis tanggal 12 Agustus 2001. Sayangnya, arsip notulensi Fordis tidak dapat diperoleh.