Bismi... 

Posted by Indra Jaya, M.A. | Wednesday, July 14, 2010 A.D. (07:58:51 PM)

Selepas isya biasanya kantor pengajaran di Program Excellent Class menggeliat kembali dengan berbagai macam aktivitas yang berkenaan dengan pelayanan santri. Hilir mudik santri masuk dan keluar dari ruangan tersebut guna mengurus keperluannya dari mengambil spidol untuk muwajahahmalam dengan wali kelas sampai mencari guru untuk konsultasi pelajaran maupun pribadi. Peristiwa ini menjadi rutinitas harian yang terus berlangsung sampai jam sepuluh malam, ketika tanda bel masuk asrama berbunyi.

Termasuk malam senin lalu, disaat saya sedang berada disalah satu komputer kantor disana. Tiba-tiba masuk seorang santri bersama kakak kelasnya menanyakan salah satu ustadz, namanya Bismi Agustian, baru setahun ia menjadi santri di Daar el-Qolam. Anak seorang tentara yang tinggal di Tangerang, tepatnya di asrama YONIF 203, Jatiuwung.

Saya pun langsung bertanya tentang tujuan kedatangannya, “Saya ingin menginfakkan uang ustadz…”, jawabnya.

Tentu saja saya langsung kaget mendengar jawabannya tersebut dan menarik sayauntuk tahu lebih dalam , karenanya saya bertanya lagi. “Maksud kamu apa? Tolong jelaskan ke saya. “Tanya saya menyelidik.

Saya menemukan uang dua hari yang lalu, tapi sampai saat ini tidak ada yang mengaku kehilangan, jadi saya ingin menginfakkannya.” ,jawabnya lugu.

Jawaban yang lugu tersebut menarik saya untuk tahu lebih jauh. Saya pun memintanya bercerita lebih jauh. Dengan bahasa yang datar ia pun bercerita, “dua hari yang lalu, ketika saya sedang berada di depan book shop, saya menemukan uang sebanyak Rp. 76.000,- , saya pun langsung melaporkanya kepada kakak kelas enam Bagian Disiplin. Setelah diumumkan selama dua hari ternyata tidak ada yang mengaku kehilangan. Akhirnya kakak kelas saya mengajak saya untuk bertanya kepada salah seorang Ustadz, apa yang mesti dilakukan dengan uang tersebut. Beliau menyarankan saya untuk menginfakkan uang tersebutdan memberi tahu saya ustadz yang biasa mengumpulkan uang infak. Maka dari itu sekarang saya datang ke sini untuk menyerahkan uang tersebut kepadanya.”

Sebagai seorang guru tentu saja saya sangat terharu mendengar jawaban seperti itu. Jawaban yang datang dari santri yang baru satu tahun belajar di Daar el-Qolam. Bagi anak seumurnya tentu itu uang yang cukup banyak, paling tidak untuk jajan, tetapi dengan sukarela ia memilih untuk mengembalikannya. Saya pun bertanya kembali, “Kenapa kamu kembalikan uang itu, tidak kamu ambil saja kan lumayan banyak?“.

Bismi yang lugu itu menjawab, “Saya nggak mau ambil uang itu, paling kalau saya ambil habis buat jajan. Tapi kalau saya kembalikan, saya kan dapat pahala!

Sebuah ungkapan sederhana yang mengharukan, di tengah-tengah kehidupan yang yang kadang tidak mengenal kejujuran dalam mencari sesuap nasi. Sebuah kalimat pendek yang mengingatkan akan wujud Tuhan dalam segala tindakan. Sebuah jawaban singkat penuh harapan, ditengah kondisi bangsa yang sedang kerontang dibelut kanker korupsi para atasan.

Nak… Kejujuranmu akan menghantar kamu pada limpahan berkah dan cahaya suci-Nya.

Bapak dan Ibu, berbahagialah dan bersyukurlah karena Allah SWT telah menganugrahkan satu titipan yang lebih berharga dari bongkahan emas sekalipun.

Copyright © 2009-2010
Share This Using Popular Bookmarking Services