• +62
  • [email protected]

    Artikel dan Berita Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Kewajiban Menunaikan Hak Orang Lain

    Mari kira renungkan, Agama Islam adalah satu-satunya agama yang Allah Subhanahu wata’alaa ridhoi, diturunkan ke dunia ini dengan syari’at yang paling sempurna. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wata’alaa:

    ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِيناۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثۡمٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah : 03)

    Tanda sempurnanya agama Islam adalah dengan tidak hanya dibuat dan diatur syariat tentang kewajiban beribadah saja, namun juga dibuat syariat khusus yang membahas tentang hubungan antar makhluk hidup, khususnya sesama manusia. Kalau kita mengira bahwa menjadi seorang muslim cukup hanya dengan beribadah saja, maka sudah tentu itu adalah kesalahan besar.

    Keharusan Menunaikan Hak Orang lain

    Di dalam sebuah hadits dikisahkan oleh Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wasallam bahwa ada seorang wanita muslimah yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, namun berada dalam keadaan disiksa oleh api neraka dikarenakan dia tidak memenuhi kewajibannya terhadap seekor kucing, seperti dalam hadits Nabi Salallahu’alaihi wasallam berikut ini, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar:

    عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ قَالَ فَقَالَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَا أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلَا سَقَيْتِهَا حِينَ حَبَسْتِيهَا وَلَا أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

    “Ada seorang wanita disiksa disebabkan mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan lalu wanita itupun masuk neraka”. Lalu imam Nafi’ berkata; bahwa Nabi bersabda: “Sungguh Allah Maha Mengetahui bahwa kamu tidak memberinya makan dan minum ketika engkau mengurungnya dan tidak membiarkannya berkeliaran sehingga dia dapat memakan serangga tanah”. (HR. Bukhari 2192)

    Di dalam hadits tersebut, jelas bahwa seseorang yang tidak menunaikan hak hewan saja bisa mendapatkan dosa yang dapat memasukannya ke dalam api neraka, lalu bagaimana dengan manusia yang saling menyakiti antar sesamanya?

    Hal Yang Harus Dijaga

    Karena itu, dengan kesempurnaan agama Islam, Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada sahabatnya secara khusus dan umumnya kepada umat muslim keseluruhan agar saling menjaga hak sesama muslim, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan, seperti dalam hadits dari Abdullah bin Amru, bahwa Nabi Salallahu’alaihi wasallam bersabda:

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

    “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhori 9)

    Di dalam riwayat lain dari Fadhalah bin Ubaid, bahwa Nabi Salallahu’alaihi wasallam bersabda:

    الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ

    “Seorang mukmin adalah orang yang membuat orang lain merasa aman atas harta dan jiwa mereka. Dan seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan dan perbuatan dosa.” (HR. Ibnu Majah 3924)

    Seandainya saja kita berpegang teguh kepada hadits ini, maka dengan izin Allah, hidup kitapun akan diliputi dengan keamanan, ketentraman juga kebahagiaan, karena masing-masing dari muslim saling menjaga muslim lain dari keburukan lisan dan tangannya sendiri untuk menjaga harta dan jiwa orang lain.

    Yang dimaksud dengan keburukan lisan adalah suatu perkataan yang keluar dari lisannya dan menyakiti hati orang lain, seperti ejekan, perkataan kasar, menuduh, berbohong dsb. walaupun tujuannya hanya sebagai candaan. Dan yang dimaksudkan dengan keburukan tanggannya adalah perbuatan memukul atau mengambil harta orang lain tanpa hak atau hal lain yang serupa.

    Maka hendaknya seorang muslim meninggalkan hal-hal yang tidak baik dan tidak bermanfaat tersebut karena dapat menyakiti hati muslim lainnya dan menyebabkan rasa tidak aman bahkan ketakutan, seperti nasehat Nabi Salallahu’alaihi wasallam dari riwayat Abu Hurairah berikut:

    مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

    “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi 2239)

    Dan juga hendaknya seorang muslim untuk tidak meremehkan perbuatan dosa, walaupun hanya dengan menyakiti muslim lain dengan lisan atau tangannya. Karena dosa kecilpun bisa jadi itulah yang kemudian akan membinasakan kita.

    إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ

    “Sungguh kalian mengerjakan beberapa amalan yang menurut kalian lebih remeh temeh daripada seutas rambut, padahal kami dahulu semasa Nabi Salallahu’alaihi wasallam menganggapnya diantara dosa-dosa besar.” (HR. Bukhori 6011)

    Oleh karena itu, sebagai seorang santri hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

    1. Agama Islam adalah agama sempurna yang didalamnya diatur masalah peribadahan dan juga pergaulan.
    2. Tidak cukup bagi orang muslim hanya memperhatikan ibadahnya saja, namun harus diiringi juga dengan sikap yang baik kepada muslim yang lainnya.
    3. Tidak mengucapkan perkataan yang bisa menyakiti sesama muslim lainnya, seperti mengejek, menuduh, membohongi maupun berkata kasar.
    4. Juga tidak menyakiti muslim lainnya dengan memukul atau mengambil harta orang lain tanpa seizin pemiliknya, baik itu uang, baju, sandal, makanan dsb.
    5. Bahwa sesuatu yang kita anggap kecil, mungkin saja besar di hadapan Allah Subhanahu wata’alaa. Termasuk berbuat dosa kecil, bisa jadi itulah yang membinasakan kita kelak di akhirat nanti.
    6. Maka tinggalkanlah perbuatan yang tidak baik dan tidak bermanfaat.
    7. Dan ingat, sebaik-baiknya orang yang salah adalah orang yang sudah bertaubat dari kesalahannya, memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wata’alaa, dan berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

    Semoga bermanfaat.

    Ditulis oleh Al-Ustadz Rayi Setiadi Putra, Guru Pelajaran Dirosah Islamiyyah Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2

    Disunting oleh Bagian Publikasi dan Website.

    Tags

    Leave a comment

    %d bloggers like this: