• +622159576882 |+622159576730
  • [email protected]

    Artikel dan Berita Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Tantangan Melangitkan Literasi di Kalangan Santri

    “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”
    ~ Imam al-Ghazali ~

    Ya, Imam al-Ghazali, ulama muslim yang bergelar Hujjatul Islam, pernah berkata, “bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!” Perkataan tersebut memang singkat, tetapi memiliki makna yang begitu dalam. Melalui perkataan itu, Imam al-Ghazali mencoba menyiarkan kepada semua orang bahwa sudah sepatutnya bagi seseorang untuk dapat memberikan sumbangsih kepada sesama manusia selama masih hidup di dunia.

    Jika diperhatikan, ucapan tersebut juga bermakna sindiran. Dengan kata-kata itu, Imam al-Ghazali seakan-akan ingin menyadarkan setiap orang bahwa hidup di dunia ini tidak akan ada artinya bila kita tidak meninggalkan apa-apa untuk para generasi penerus sepeninggal kita. Maka dengan sindiran tersebut, beliau ingin mengajak semua orang untuk berjuang mewujudkan sebuah warisan yang dapat dinikmati oleh para generasi penerus meski kita bukanlah keturunan raja atau ulama. Beliau memberikan sebuah solusi atau jalan yang dapat ditempuh jika kita ingin mewariskan sesuatu, meskipun kita tidak memiliki kekayaan yang banyak. Jalan atau solusi tersebut adalah dengan menulis.

    Pada kesempatan kali ini, mari mengulas sedikit tentang dunia tulis menulis dan literasi dari suasana, sudut padang, serta keadaan yang ada di pondok pesantren.  

    Pesantren, Santri, dan Literasi

    Santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2

    Seperti yang telah kita ketahui sejak beberapa tahun lalu, tanggal 22 Oktober telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Hari Santri Nasional. Nah, jika ada pertanyaan yang dilontarkan kepada orang-orang awam, apa sih yang muncul di benak mereka ketika mendengar kata ‘santri’? Kira-kira seperti apa jawaban mereka?

    Mungkin, mayoritas akan membayangkan figur anak muda atau remaja yang membawa kitab suci Alquran dan atau kitab ‘kuning’ (kitab salaf) untuk belajar mengaji bersama ustaz atau kiai. Berpenampilan mengenakan sarung, kemeja atau baju koko, dan peci di kepala yang ditarik sedikit ke belakang hingga sebagian rambut terlihat di atas dahi. Begitukah kira-kira gambaran yang dibayangkan? Baiklah, hal tersebut memang tidak sepenuhnya keliru. Hingga saat ini, memang masih banyak santri nusantara yang berpenampilan khas seperti itu, terutama di pondok-pondok pesantren tradisional.

    Namun sebenarnya, sebutan santri tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren saja. Santri juga bisa bermakna lebih luas, yaitu ditujukan kepada siapa pun yang sedang belajar mendalami agama dan mengikuti pemikiran seorang kiai atau pemimpin keagamaan.

    Suasana Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2

    Pondok Pesantren Daar el-Qolam, kini menjadi tempat bernaung dan menuntut ilmu bagi lebih dari 4.000 santri, sehingga tak heran bila Daar el-Qolam dianggap sebagai salah satu pondok pesantren terbesar di Provinsi Banten bahkan di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut juga belum ditambah dengan para pengajar, para pekerja dan tenaga kependidikan, serta keluarga besar almarhum pendiri Pondok Pesantren Daar el-Qolam.

    Pondok Pesantren Daar el-Qolam memang bukan tipikal pondok pesantren tradisional, melainkan sudah termasuk kategori pondok pesantren modern. Perbedaan di antara keduanya memang terlihat cukup signifikan, mulai dari sistem dan kurikulum pendidikan, fasilitas dan sarana prasarana pesantren, kegiatan keseharian santri, dan lain sebagainya.

    “Be All Round, Not All Wrong” ~ KH. Ahmad Rifai Arief 

    Anda pernah mendengar atau membaca kutipan kata-kata di atas? Kata-kata tersebut bisa jadi tidak familiar di kalangan awam, tetapi yang pasti kata-kata itu bagaikan cambuk yang ampuh dalam mengilhami para santri untuk selalu siap mempelajari hal-hal baru serta siap menerima sekaligus mengemban amanat baru.

    Sesungguhnya terdapat pesan luar biasa yang selalu disampaikan oleh almarhum pendiri Pondok Pesantren Daar el-Qolam, KH. Ahmad Rifai Arief bahwa kita harus menjadi sosok yang serba bisa ‘all round’, bukan malah menjadi sosok yang serba salah ‘all wrong’ dan tidak mau belajarDalam artian, kita diminta untuk selalu siap menerima amanat dan tugas apapun, bersedia untuk ditugaskan di bagian struktural apapun, siap untuk dididik dan diajarkan tugas dan hal-hal baru, bahkan harus siap untuk dikader sebagai penerus amanat.

    Nah, kata-kata itu pulalah yang akhirnya menginspirasi santri dan juga asatidz untuk siap menerima tugas dan mengemban amanat baru. Kehidupan totalitas selama 24 jam di pondok pesantren yang tersistem, memang mengharuskan setiap guru untuk terlibat aktif dalam membimbing dan membina kegiatan keseharian santri, termasuk dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Jadi, tugas guru di pondok pesantren modern itu tidak hanya mengajar secara formal di dalam kelas, tetapi juga aktif di off class.

    Dengan modal kepercayaan diri dan prinsip ‘be all round, not all wrong’ di atas, siap atau tidak siap, setiap santri dan asatidz pun menerima tugas dan amanat baru tersebut. Banyak yang terlibat di berbagai struktur personalia, mengurusi berbagai hal yang berbeda-beda bidang dan pekerjaannya. Memang terlihat sulit jika dibayangkan, namun begitulah faktanya hidup di alam pesantren, benar-benar dididik untuk siap ‘serba bisa’. 

    Tantangan Mengajak Santri Melek Literasi 

    Baiklah, kembali ke pembahasan literasi santri. Pernahkah Anda berpikir? Apa kira-kira potensi dan kemampuan santri yang bisa diandalkan bahkan sampai ia lulus dan terjun di masyarakat? Mungkin, sebagian besar akan menjawab, menjadi seorang pendakwah, menjadi guru, menjadi kiai dan membangun pesantren baru. Itu semua benar, tetapi santri pondok pesantren modern, seperti Pondok Pesantren Daar el-Qolam memiliki nilai tambah lainnya.

    Hal yang membanggakan adalah dengan adanya berbagai kegiatan wajib setiap harinya yang didukung dengan organisasi kepemimpinan serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler, santri dapat tumbuh menjadi seorang yang memiliki potensi dan kualitas diri dalam berbagai bidang. Sehingga kemampuan tersebut nantinya akan bermanfaat ketika mereka lulus dan terjun ke masyarakat serta melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya. 

    Beberapa contoh kegiatan ekstrakurikuler santri. Bidang ekstrakurikuler seperti olahraga, kesenian, dan kepramukaan masih menjadi favorit dan dominan di kalangan santri. Di sisi lain, ekstrakurikuler Jurnalistik yang menaungi kegiatan literasi masih kalah pamor dan minim peminat.

    Lalu, bagaimana dengan ketertarikan santri terhadap dunia tulis menulis dan literasi?

    Fakta yang ada di lapangan memang perlu diakui bahwa budaya literasi dan kecintaan santri terhadap dunia tulis menulis masih sangat minim. Hal ini pun terjadi bukan hanya pada santri, terkadang para asatidz pun masih sulit untuk mulai membiasakan diri untuk membudayakan literasi. Dalam hal ini, semuanya berada di level yang sama, masih dalam tahap belajar, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan berusaha menambah pengetahuan agar lebih melek terhadap dunia literasi.

    Namun, sepertinya perlu kita sepakat bahwa minat dan ketertarikan para santri yang masih sangat minim terhadap dunia literasi, bukan hanya sebatas problematika di pesantren semata. Sebagaimana yang kita bisa saksikan, kini generasi milenial bahkan generasi Z pun secara terang-terangan lebih tertarik terhadap hal-hal yang berbentuk visual dan hidup, sehingga kegiatan dunia literasi seperti membaca dan menulis mulai kehilangan ‘penggemar’nya.

    Sebagai dampaknya, anak-anak zaman now, cenderung lebih tertarik untuk menjadi seorang Gamer atau YouTuber yang terkadang kontennya masih tidak jelas bahkan tidak bermutu, dibanding menjadi seorang penulis buku, ilmuwan, sastrawan, atau bahkan penulis blog (narablog). Tentu saja ini merupakan tantangan! Ya, kan? Pernah berpikiran hal yang sama?

    Melangitkan Literasi Santri

    Kegiatan perlombaan sastra dan literasi pada ekstrakurikuler Jurnalistik.

    Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit. Walau santri yang tertarik terhadap literasi masih sedikit, tapi jika dikelola, diajarkan, serta diberikan banyak pencerahan dan inspirasi tentang literasi, lama-lama jumlah peminatnya pasti akan ‘membukit’ alias bertambah banyak. Harus yakin akan hal itu. Maka, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2 melalui para guru pembimbing ekstrakurikuler Jurnalistik mencoba mencari berbagai solusi dan cara untuk menarik minat para santri demi melangitkan literasi.

    Walau berat, tetapi banyak hal dan sumbangsih yang para pembimbing coba usahakan untuk melangitkan literasi di kalangan santri, mulai dari program kelas-kelas literasi, kegiatan workshop dan pelatihan menulis, bedah buku, field trip ke tempat yang menambah pengetahuan literasi, mengadakan lomba literasi, hingga pemilihan duta literasi untuk ekstrakurikuler Jurnalistik ini.

    Kegiatan pemilihan Duta Jurnalistik guna menarik minat dan menginspirasi santri lainnya untuk melangitkan literasi.

    Di lain kesempatan, terkadang passion guru lainnya sebagai seorang blogger juga sering dibagikan kepada santri-santri yang sekiranya berminat dan memiliki potensi. Seperti pengalaman beberapa kali memenangkan kompetisi blog pun tak luput dari perbincangan dan sharing saya kepada para santri. Dalam hal ini, kitya sebut saja literasi digital, karena bagaimanapun blog atau website adalah media platform baru yang berbentuk digital dan dapat dimanfaatkan sebagai wadah berkarya untuk mengembangkan literasi. 

    Misalnya, kompetisi Writingthon Asian Games 2018 setahun lalu yang diselenggarakan untuk dua kategori, blogger dan pelajar. Para santri diajak dan disemangati untuk mencoba ikut berpartisipasi dalam kompetisi bergengsi tersebut. Walau akhirnya belum berhasil lolos, mereka pun diajarkan bahwa kalah dan menang adalah hal biasa, yang terpenting ada pelajaran yang dapat dipetik setelahnya.

    Salah satu cara untuk menarik minat literasi santri, yaitu pembuatan majalah santri untuk kalangan sendiri yang didesain langsung oleh para santri. 

    Selain itu, ada juga satu tugas lainnya yang biasa dikerjakan rutin bersama para santri pengurus bagian ekstrakurikuler Jurnalistik, yaitu pembuatan majalah santri setiap tiga bulan. For your information, SDM utama untuk mengerjakan majalah ini memang langsung dari para santri. Jadi, selain menulis dan mengisi konten majalah, mereka jugalah layout designer-nya. Ditambah, mereka pun mengerjakannya dengan laptop mereka masing-masing. Tugas para guru pembimbing hanya membimbing, mendampingi, mengarahkan, dan sebagai editor alias membantu penyuntingan naskah konten majalah yang ditulis oleh anak-anak.

    Sampai saat ini, penugasan dan pengerjaan sebagian target output dari kegiatan ekstrakurikuler Jurnalistik memang masih mengandalkan perangkat laptop dari masing-masing santri. Di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, semua santriwan dan santriwati memang diperbolehkan membawa laptop (jika wali santrinya menyetujui), penyimpanannya pun berada di ruang Laptop Center, sehingga mereka tidak bisa secara seenaknya menggunakan laptop, pun dilarang jika menggunakannya di asrama, hanya di ruang lingkup kelas dan laptop center tadi. Penggunaan internet melalui WIFI di pondok pun sudah di-filter dan selalu diawasi rekam jejaknya. 

    Santriwan dan santriwati anggota ekstrakurikuler Jurnalistik saat mengikuti pelatihan desain layout majalah.

     

    Penutup

    Pada awal tulisan ini, telah diungkapkan kata-kata penuh makna milik Imam al-Ghazali yang pada intinya mengajak kita semua untuk berjuang mewujudkan sebuah warisan ‘abadi’ yang dapat dinikmati oleh generasi penerus meski kita bukanlah keturunan raja atau ulama yang memiliki kekayaan yang banyak dan keturunan yang mulia. Solusi atau jalannya adalah dengan menulis.

    Perihal melangitkan literasi memang bukanlah perkara mudah di era yang semakin banyak tantangan digitalisasi, apalagi di kalangan santri. Berbagai godaan akan kemudahan dan keindahan visual, seolah menjadi ‘bumerang’ yang justru sewaktu-waktu mematikan minat dan daya tarik literasi. Sungguh sebuah tantangan besar. Tetapi, bukan berarti tidak bisa diwujudkan dan dicicil secara perlahan.

    Mari kumpulkan semangat bersama dan wujudkan tekad yang kuat untuk melangitkan literasi sehingga cita-cita melangitkan literasi dapat terealisasi di kalangan santri, agar tercipta warisan ‘abadi’ untuk generasi setelah kita nanti. Aamiin. 

    Ditulis oleh Firmansyah, Guru Mata Pelajaran B.Inggris dan B. Arab, Pemilik Blog www.bangfirman.com

    Tags

    Leave a comment