• +622159576882 |+622159576730
  • [email protected]

    Artikel dan Berita Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Keanekaragaman Burung Kuntul dan Distribusinya

    Pendahuluan

    Pemanfaatan keanekaragaman jenis satwa liar secara tradisional telah sejak lama dilakukan oleh masyarakat, terutama sebagai pemenuh kebutuhan protein hewani. Jenis burung air termasuk salah satu yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Pada awalnya pemanfaatan jenis-jenis burung tersebut hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat setempat. Namun dalam perkembangannya, ternyata jenis-jenis burung tersebut tidak saja dimanfaatkan untuk kebutuhan protein, tetapi juga untuk diperjualbelikan kepada masyarakat kota, guna menambah sumber pendapatan. Bagi masyarakat desa pesisir yang kebanyakan hidup sebagai nelayan, yang waktu bekerjanya sangat tergantung kepada musim/cuaca, maka pendapatan dari hasil menangkap burung dan dijual kepada masyarakat di kota sangat berarti untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga kegiatan tersebut menjadi rutinitas bagi masyarakat desa pesisir.

    Pengeksploitasian jenis-jenis burung secara terus menerus tanpa adanya pengendalian/kontrol dikhawatirkan akan mengancam kepunahan. Padahal diantar jenis-jenis burung tersebut, kemungkinan ada yang merupakan jenis yang dilindungi. Tingkat pendidikan masyarakat desa pesisir yang pada umumnya rendah, sulit untuk memahami bahwa pemanfaatan sumber daya hayati yang tidak terkendali akan mengakibatkan kepunahan jenis-jenis tersebut. Di pihak lain, Monitoring populasi dan habitat jenis-jenis burung air di daerah pesisir utara Angke kapuk, Jawa Barat, dan Mahakam serta kajian sosial ekonomi masyarakat desa pesisir sebagai kelompok masyarakat yang banyak memanfaatkan sumber daya hayati tersebut, belum banyak dilakukan.

    Pemanfaatan jenis-jenis burung air oleh masyarakat secara faktual telah menjadi mata pencaharian yang dapat menyubstitusi mata pencaharian utama sebagai nelayan di saat tidak melaut. Namun pemanfaatan sumber daya hayati tanpa memperhatikan aspek kelestarian jenisnya akan mengakibatkan musnahnya potensi tersebut.

    Morfologi Burung Kuntul

    Burung Kuntul. Tinggi badan burung ini dapat mencapai 50 sentimeter dengan berat 200 sampai 600 gram. Paruhnya pendek dan tebal. Burung dewasa yang belum dibuahi umumnya berbulu putih, berparuh kuning dan kaki abu-abu kekuningan. Saat membuahi, muncul bulu-bulu kekuningan di punggung, dada dan mahkota di kepalanya. Adapun kakinya berubah menjadi merah muda bercampur oranye. Burung Kuntul kerap ditemukan di habitat yang kering berumput. Makanannya berupa serangga, khususnya belalang. Kadang-kadang mereka tampak hinggap di binatang besar yang merumput seperti kerbau. Populasi awalnya di Asia, Afrika dan Eropa. Namun, kemampuan mereka melakukan kolonisasi membuat populasinya kini juga ditemukan di Australia, Pasifik serta Amerika Utara dan Selatan.

    Kuntul adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ardeidae. Burung ini berkaki panjang, berleher panjang dan tersebar di seluruh dunia. Burung Kuntul sewaktu terbang lehernya membentuk huruf “S” dan tidak diluruskan, berbeda dengan burung dari keluarga Bangau (Ciconiidae) dan Ibis (Threskiomithidae) yang meluruskan leher dan merentangkan kaki-kakinya sewaktu terbang. Ada beberapa jenis Kuntul antara lain Kuntul besar (Ardea alba), Kuntul kecil (Egretta garzetta), Kuntul sedang (Egretta intermedia), Kuntul cina (Egretta eulophotes).

    Kuntul Cina (Egretta eulophotes) mempunyai ukuran badan sedang, 68 cm atau ada yang lebih besar, warna bulu putih, abu-abu dengan kaki kehijauan, hitam, kuning. hitam dengan pangkal bawah kuning. Pada ukuran kaki ada yang panjang ada pula yang pendek. Berbeda dengan Kuntul kecil, Kuntul cina mempunyai ukuran panjang dan warna kaki yang berbeda. Pada masa perkembangbiakan ada Kuntul yang mengalami perubahan warna yaitu paruh kuning dan kaki hitam (seperti pada Kuntul Cina). Warna iris kuning sampai cokelat, paruh kuning atau kuning dengan pangkal bawah kuning, kaki kuning hijau sampai abu-abu-biru.

    Kuntul besar adalah burung Kuntul yang mempunyai ukuran kaki dan leher lebih panjang dibandingkan dengan ukuran kaki dan leher burung Kuntul lain. Kuntul besar ini seperti burung Kuntul lain, habitatnya di perairan atau di tempat-tempat yang banyak mengandung air. Kuntul besar memangsa ikan, katak dan reptil kecil sebagai makanannya.

    Habitat burung Kuntul di lahan basah, di pantai atau terumbu karang, di rawa-rawa, sungai, laguna, lumpur dan tempat-tempat lainnya yang berair. Makanan berupa ikan, katak, dan invertebrata. Spesies seperti Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) pemakan serangga yang berukuran lebih besar dan tidak terlalu tergantung pada air.

    Burung kuntul

    Great Egret Arde alba

    Gambar 1. Burung Kuntul Besar

    Burung kuntul

     

    Little Egret Egretta garzetta

    Gambar 2. Burung Kuntul Kecil

    Burung kuntulBurung kuntul

    Gambar 4. Egretta sacra Gambar 5. Egretta intermedia

    Keanekaragaman Jenis Burung Kuntul

    Perubahan lingkungan mempengaruhi perubahan spesies yang hidup di sekitarnya, banyaknya penebangan pohon mengakibatkan fauna yang tinggal seperti halnya pada burung juga terganggu. Beberapa jenis burung yang dilindungi dan atau terancam kepunahan. Konservasi jenis satwa liar dilakukan dengan menetapkan status dilindungi Undang-undang terhadap satwa liar yang keberadaannya di alam telah menjadi langka dan atau terancam kepunahan, terutama sebagai akibat pemanfaatannya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah konservasi

    Tabel 1. Burung-burung yang dilindungi dan atau terancam kepunahan

    No Nama Ilmiah Nama Indonesia Nama Inggris Status
    Perlindungan Indonesia CITES IUCN
    18 1 8
    1. Anhinga melanogaster Pecuk ular Oriental darter P NT
    2. Pelecanus conspicillatus Pelican Australian Pelicans P
    3. Ardea alba Kuntul Besar Great Egret P
    4. Egretta intermedia Kuntul Perak sedang Intermediate Egret P
    5. Egretta garzetta Kuntul kecil Little Egret P
    6. Egretta eulophotes Kuntul cina Chinese Egret P VU
    7. Egretta sacra Kuntul karang Reef Egret P
    8. Bubulcus ibis Kuntul kerbau Cattle Egret P

    Distribusi Burung Kuntul

    Distribusi burung Kuntul yang akan di bahas meliputi Angke Kapuk, Indramayu dan Mahakam.

    A. TWA (Taman Wisata Alam) Angke Kapuk

    Daerah Angke Kapuk dengan luas 99.82 Ha. Ditetapkan menjadi TWA (Taman Wisata Alam) berdasarkan keputusan mentari Kehutanan Nomor 667/Kpts-II/1995, sebagai bagian dari kawasan hutan Angke kapuk Muara, Kecamatan penjaringan, Kota madya Jakarta Utara, dan secara geografis terletak antara 106°43′-106°45′ bujur timur dan 6°05′-6°07′ lintang selatan. Batas TWA Angke Kapuk adalah:

    • Sebelah barat berbatasan dengan tambak milik Dinas Perikanan
    • Sebelah selatan berbatasan dengan akses jalan menara radar dan penduduk
    • Sebelah timur berbatasan dengan Pantai Indah Kapuk dan Hutan lindung
    • Sebelah utara berbatasan dengan pantai.

    Jenis-jenis fauna yang mendominasi kawasan TWA Angke kapuk, umumnya adalah jenis-jenis burung yang hampir seluruhnya merupakan satwa yang dilindungi. Beberapa jenis diantaranya adalah Pecuk Ular, Kowak maling, Kuntul putih, Kuntul kerbau, Cangak abu, Blekok, Belibis, Cekakak

    Burung kuntul Burung kuntul

    Gambar 6. Burung pecuk Ular dan Kuntul intermedia

    Burung kuntul

    Gambar 7. beberapa Egretta intermedia sedang bertengger di pohon

    B. Indramayu (Jawa Barat)

    Pemanfaatan jenis-jenis burung air oleh masyarakat pesisir pantai utara Jawa Barat secara faktual telah menjadi sumber mata pencaharian yang dapat menyubstitusi mata pencaharian utama sebagai nelayan di saat tidak dapat melaut. Namun pemanfaatan sumber daya hayati tanpa memperhatikan aspek kelestarian jenisnya, akan mengakibatkan musnahnya potensi tersebut.

    Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan praktek penangkapan, diketahui bahwa jumlah jenis burung air yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebanyak delapan jenis. Dari 8 jenis tersebut dua di antaranya merupakan burung migran, yang kehadirannya hanya bulan tertentu saja, yaitu pada saat musim dingin di belahan bumi utara.. dari jumlah yang diketahui, hanya dua yang frekuensi pemanfaatannya paling sering, yaitu segrek/der (Gallirallus striatus), Kuntul (Egretta intermedia). Karena kehadiran jenis burung tersebut tidak mengenal musim. Hasil penangkapan kedua jenis burung tersebut setiap bulannya mencapai antara 30-500 ekor. Berdasarkan laporan Rusila (1987) bahwa dari hasil pengamatan praktek penangkapan oleh masyarakat yang dilakukan pada bulan Januari sampai Juni 1987, tercatat 28 jenis burung yang ditangkap oleh masyarakat. Dari 28 jenis tersebut, tujuh jenis frekuensi pemanfaatannya cukup tinggi dibandingkan dengan jenis yang lainnya. Namun demikian, Laporan lain menyebutkan bahwa jenis burung yang ditangkap oleh masyarakat hanya 13 jenis.

    C. Mahakam

    Daerah Mahakan Tengah (DMT), dengan lokasi daerah antara 180 km dan 375 km ke hulu dari muara sungai Mahakam (antara 106°-117°BT dan 0°’-30° LS) yang merupakan salah satu daerah lahan basah terbesar Kalimantan. Daerah lahan basah tersebut terdiri dari tiga danau besar (Jempang, Melintang dan Semayang) dan beberapa danau kecil, rawa gambut dan air tawar dan anak sungai utama. Daerah tersebut terletak di propinsi Kalimantan Timur dalam wilayah ekologi paparan Sunda dan merupakan bagian dari DAS Mahakam, dimana salah satu sistem sungai utama dari Kalimantan yang mengalir dari 118°BT hingga 113°BB dan antara 10 LU dan LS. Daerah danau Mahakam tengah (Danau Jempang: (116°12’E, 0°25” mencakup luas 400.000 hektar. Pada tingkat air tinggi, kemungkinan untuk dapat mengamati satwa di hutan sekeliling danau-danau lebih besar dibandingkan pada tingkat air rendah dan hanya daerah perwakilan saja yang diamati dengan berjalan kaki.

    Total jumlah burung yang dicurigai menjadi lebih tinggi, selama musim kemarau makanan mudah masuk di 6 danau dangkal, rumput dan lumpur luas. Selama survei, menemukan 31 jenis burung yang sama (50%) dari 62 jenis. Jenis yang hanya ditemui selama survei dalam jumlah relatif besar dan tidak ditemui adalah Kuntul kecil, Cabak kota dan Dara laut Sayang putih, kemudian si migran utara (Dara laut kumis) dengan arah lintasannya ke Australia selama musim dingin utara. Jenis yang ditemui selama survei dalam jumlah relatif besar adalah Kuntul besar, Kuntul perak, Blekok sawah, Belibis kembang dan Pecuk ular asia, dimana semua dicurigai bertengger antara bulan Juli dan Oktober begitu pun pada Walet sarang hitam bertengger berhamburan di sungai kering/sanggahan di danau. Jenis satwa lain pemakan ikan di danau dangkal atau anak sungai kecil selama musim kemarau adalah Dara laut kumis migran, Dara laut tengkuk hitam, Pekaka emas dan Mandar batu yang dipercaya menjadi satwa penetap. Selama survei, ditemukan morfologi gelap dan morfologi terang dari Elang berontok.

    Daftar Pustaka

    I Sofian, K Endang. 2004. Kajian Pemanfaatan Jenis Burung Air di Pantai Utara Indramayu Jawa Barat. Buletin Plasma Nutfah Vol. 10 No 1.

    Budiono, K Danielle, A Rafidha. 2006. Survei Keanekaragaman Hayati 2005 di Danau dan Lahan Basah Daerah Mahakam Tengah (DMT) Kalimantan Timur, Indonesia. Yayasan Konservasi Rasi. http://www.geocities.com/yayasan_konservasi_rasi

    Dephut. 2002. Taman Wisata Twa Angke Kapuk. Jakarta: Murindra Karya Lestari Press

    Departement Sustainability and Environment. 1988. Action Statement: Ardea alba, Ardea intermedia, Egretta garzeta. Victoria

    Meijaard E et al. 2006. Hutan Pasca Pemanenan Melindungi Satwa Liar dalam Kegiatan Hutan Produksi Kalimantan. Jakarta: Subur Print.

    Penulis:

    Seorang guru di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 2

    Leave a comment