• +62
  • [email protected]

    Artikel dan Berita Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Obituari Kiai Haji Ahmad Rifai Arief

    Oleh : Saeful Bahri
    Guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam

    Tulisan ini akan berupaya menggali perjalanan hidup juga pemikiran seorang tokoh yang telah dinilai oleh masyarakatnya telah memberikan keteladanan serta sumbangan yang besar semasa hidupnya. Tokoh yang dimaksud ialah Kyai Haji Ahmad Rifa’i Arief (1942-1997 M/1361-1418 H). Adapun sumbangan dan peranan beliau adalah dalam bidang pendidikan pondok pesantren di wilayah Banten sebelah barat Pulau Jawa, Indonesia.

    Meskipun bukan orang yang pertama dalam mendidikan lembaga pendidikan pondok pesantren di Pulau Jawa, tetapi gagasan-gagasannya bernas dan memiliki visi jauh melesat ke depan. Beberapa testimoni masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. MA. Thihami, M.A. Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten, bahwa gagasan dan pemikiran Ahmad Rifa’i Arief melampaui usianya dan kualitas visinya melebihi kapasitas fisiknya.[1] Penghargaan dan pujian masyarakat pada umumnya berdasarkan sumbangan beliau yang telah diberikan untuk masyarakat.

    Lebih kurang 30 tahun (1968-1997 M/1387-1418 H), Ahmad Rifa’i Arief telah mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan pondok pesantren, sebelum beliau meninggal dunia pada Ahad 15 Juni 1997 M/8 Shafar 1418 H., pada usia yang belum terlampau tua, 55 tahun.

    Selama masa itulah (30 tahun), Rifa’i telah menghasilkan 4 buah institusi pendidikan, tiga buah dalam bentuk pondok pesantren dan sebuah pendidikan tinggi. Di samping itu pula, Rifa’i telah menghasilkan karya tulis seperti tafsîr, hadîth, fiqh, bahasa Arab dan lain-lain. Pesantren yang dibangunnya telah dikunjungi oleh para penuntut ilmu yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya maupun Papua. Bahkan beberapa muridnya berasal dari negara jiran seperti Malaysia dan Thailand.

    Karya tulisnya menjadi bahan rujukan dan buku pedoman pelajaran di pondok-pondok pesantren khusunya di daerah Banten. Salah satu karyanya mengenai hukum warist yang berjudul al-farâid fî fiqh al-mawârith menjadi salah satu buku rujukan Prof. Dr. Suparman Usman, seorang pakar hukum Islam di Banten, ketika beliau menulis buku tentang hukum wărith dan kompilasi hukum Islam di Indonesia.[2] Selain itu pula, gagasan dan pemikiran Rifa’i mengenai sistem pendidikan pondok pesantren banyak memberikan inspirasi kepada orang banyak untuk mengikutinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyak muridnya yang mendirikan pondok pesantren di beberapa wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera.[3]

    Sebagai deskripsi awal, penulis perlu menyampaikan gambaran ringkas tentang perjalanan tokoh ini. Ahmad Rifa’i dilahirkan di sebuah kampung kecil yang bernama Gintung[4]. Ayahnya, K.H.Qasad Mansyur adalah seorang guru agama pada madrasah ‘Masyariqul Anwar (MMA)’ kampung Gintung. Oleh sebab itulah Rifa’i dibesarkan dalam keluarga yang terpelajar dan dalam lingkungan yang penuh dengan nuansa keagamaan. Masa kecilnya digunakan untuk belajar al-Qur’an dan pengetahuan keislaman. Guru-gurunya beraliran tradisional dan modren. Aliran tradisional didapat ketika belajar kepada Kiai Haji Syihabudin Makmun, di Pandeglang,[5] Banten, juga kepada beberapa kiyai di Jawa Timur. Sedangkan aliran modern diperoleh ketika berguru kepada Kiai Haji Imam Zarkasyi (1908-1985 M/1325-1405 H)[6], di ‘Pondok Pesantren Modern Darussalam’, Gontor, Jawa Timur (1958 M-1967 M/1372-1386 H). Lebih dari itu, ia pun mengasah wawasan akademik dan intelektualnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Serang, Banten pada tahun 1974 -1985 M/1394-1405 H.

    Selain itu pula, pada masa mudanya beliau aktif dalam organisasi pelajar Islam ketika menjadi santri di Gontor. Beliau pernah menjadi ketua Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Gontor pada tahun 1965 M/1386 H. Kepribadiannya yang aktif dan wawasannya yang intelek, menjadi pertimbangan kiyainya untuk mengangkat Rifa’i sebagai guru (ustâdz) di pondok Gontor, sekaligus menjadi sekretaris pribadi kiyainya.

    Lebih kurang 7 tahun belajar dan 2 tahun membantu kiyainya mengajar, beliau kembali ke kampungnya untuk membantu ayahnya mengajar di MMA. Kemudian atas saran ayahnya, beliau mendirikan pondok pesantren pada tahun 1968 M/1388 H. yang diberi nama “Daar el-Qolam”.

    Seiring dengan tuntutan dan perubahan zaman ia kembali mendirikan pondok pesantren yang berbeda karakter dengan pondoknya yang pertama (Daar el-Qolam), pada tahun 1989 M/1410 H., pondok pesantren itu bernama ‘La Tansa’. Dua tahun kemudian tepatnya pada tahun 1991 M/1412 H., ia mendirikan pendidikan tinggi sebagai tempat tertinggi pencarian ilmu dan pengabdian masyarakat. Pendidikan tinggi tersebut adalah ‘La Tansa Mashira’. Tidak berhenti sampai di situ, gagasannya terus mengalir dengan mendirikann pondok pesantren di tepi pantai Labuan[7] Banten. Pondok itu diberinya nama ‘La Lahwa’, yang dibangun pada tahun 1993 M/1414 H.

    Gambaran ringkas mengenai Ahmad Rifa’i Arief di atas, dapat menjelaskan bahwa Rifa’i telah mengabdikan masa hidupnya untuk dakwah Islam melalui pendidikan. Yang paling mengagumkan adalah keempat lembaga pendidikan di atas semuanya dibangun di pedalaman kampung yang jauh dari keramaian bahkan peradaban.[8] Kampung-kampung tempat Rifa’i mendirikan lembaga pendidikan yang dahulunya terbelakang, baik dalam bidang ekonomi ataupun pendidikan, saat ini telah berubah keadaannya menjadi lebih baik. Tidak berlebihan jika kemudian masyarakat menilainya telah menciptakan sejarah dan membangun peradaban.

    Salah satu di antara berbagai penilaian atau pujian masyarakat mengenai sumbangan dan perjuangan Ahmad Rifa’i datang dari cendikiawan Muslim Indonesia iaitu Prof. Dr. Nurcholis Madjid (1913-2006 M/1330-1427 H), beliau mengatakan bahwa Rifa’i Arief sebagai seorang kiai mumtăz (excellent).[9] Selain itu, menurut Muhamad Wahyuni Nafis, salah seorang murid Nurcholis – juga murid Rifa’i Arief- pada saat ia diberikan tugas oleh Nurcholis Madjid untuk mempimpin ‘Sekolah Madania’,[10] Nurcholis berpesan kepada Nafis agar mengelola ‘Sekolah Madania’ seperti Kiai Rifa’i mengelola ‘Daar el-Qolam’.[11] Penilaian yang lain juga datang dari ‘Kepala Daerah Tingkat II Tangerang’ periode 1994-1999 M/1415-1419 H., Syaifullah Abdurrahman. Ketika beliau memberikan sambutan melepas jenazah beliau yang akan dimakamkan pada hari senin 15 Juni 1997 M/9 Shafar 1418 H., dalam ucapannya Syaifullah mengatakan bahawa Kiai Rifa’i adalah ‘aset’ kabupaten Tangerang.[12]

    setelah beliau wafat, pondok pesantrennya semakin berkembang dan semakin mendapat kepercayaan masyarakat, sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang sesuai untuk generasi muda Indonesia. Hal ini menurut penulis tidak berlebihan, karena saat ini lebih kurang 4000 pelajar (santri) sedang belajar di Pondok Pesantren Daar el-Qolam, 2500 santri di Pondok Pesantren La Tansa, mereka semua datang dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Menurut KH. Ahmad Syahiduddin -adik beliau- yang saat ini menggantikan dan meneruskan kepemimpinan Rifa’i Arief, perkembangan Daar el-Qolam dan beberapa pondok Rifa’i yang lain tidak lain dan tidak bukan karena pondasi dan gagasan yang telah ditanam oleh Rifa’i Arief. Tugas kami menurut Syahiduddin, hanyalah melanjutkan perjuangan dan menjaga amanah beliau.

    Ahmad Rifa’i Arief sebagai salah seorang ulama terkemuka di Banten, sejauh mana peranan dan sumbangan yang telah diberikannya dapat dilihat sebagai pemikir pendidikan, khususnya dalam sistem pendidikan pondok pesantren di abad modren. Hal ini dapat dilihat dari pemikirannya baik ada tulisan ataupun ceramah-ceramahnya. Dalam bentuk yang lebih nyata lagi, pemikiran dan gagasan Ahmad Rifa’i Arief dapat ditemukan dalam lembaga pendidikan pondok pesantren yang diasuhnya.

    Dari gambaran-gambaran tersebut di atas, penulis ingin menyimpulkan permasalahan mengenai riwayat hidup, latar belakang pendidikan, corak pemikiran, bentuk praktis pemikiran beliau pada lembaga yang ia dirikan, korelasi pemikirannya dengan konteks pendidikan masa serta pengaruh keluarga dan lingkungannya.

    Seiring dengan datangannya arus modernisasi dan globaliasasi banyak pondok pesantren yang semakin merosot peran dan eksistensinya. Namun, pesantren yang mau mengubah pola didik dan ajarnya, serta mau menerima modernisasi masih bisa bertahan hingga hari ini. Salah satu pesantren yang berani melakukan perubahan dan tidak mau melawan arus modeenisasi adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Ahmad Rifa’i Arief. Dari pondok-pondoknya penulis melihat langkah-langkah responsif dan mau menerima modernisasi tanpa menghilangkan jati dirinya yang asli sebagai lembaga pendidikan Islam yang didirikan untuk mengkaji ilmu-ilmu agama atau tafaquh fî al-dîn. Beberapa langkah yang telah beliau lakukan- demi mempertahankan sistem pendidikan pesantren- adalah sebagai berikut :

    Modernisasi Sistem

    Modernisasi sistem adalah mempertahankan tradisi lama yang masih baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Bentuk praktisnya diwujudkan dengan perubahan sistem dan metode pendidikan dan pengajaran. Seperti menggunakan sistem klasikal dan kurikulum serta metodologi dalam pengajaranya.

    Integrasi Sistem

    Selain pondok pesantren, lembaga pendidikan yang ada di Indonesia adalah madrasah dan sekolah. Saat ini banyak pengelola pesantren yang melakukan integrasi sistem pendidikan pondok pesantren dengan sistem pendidikan madrasah dan sekolah. Masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan. Sebab itulah, penulis melihat usaha Ahmad Rifa’i Arief dalam menutupi kekurangan dan memperbaiki sistem masing-masing pendidikan itu.

    Menolak Dikotomi Ilmu

    Salah satu sumber kelemahan umat Islam dalam penguasaan bidang sains dan tekhnologi adalah adanya persepsi tentang pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal semua ilmu mempunyai tujuan yang sama dan saling berkaitan. Lembaga pendidikan Islam biasanya lebih memfokuskan pengajarannya kepada ilmu-ilmu agama dan meninggalkan ilmu-ilmu umum. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan umat Islam Mereka menumpukkan pada kehidupan akhirat dan meninggalkan dunia. Hal inilah yang menurut penulis menjadi kebimbangan Ahmad Rifa’i Arief sehingga ia menolak adanya dikotomi (pemisahan ilmu)

    Pendidikan Keterampilan Hidup (life skills)

    Sebagai manusia yang hidup pada zaman modern, Rifa’i sangat menyadari tantangan yang akan dihadapi oleh generasi yang akan datang. Sebab itu, selain dibekali iman dan takwa mereka juga seharusnya dibekali keterampilan dan kemahiran sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing agar mereka dapat menaklukan zamannya

    Asumsi atau kesimpulan sementara yang penulis utarakan di atas berdasarkan pada pengamatan terhadap praktek pendidikan yang dilakukan oleh Ahmad Rifa’i Arief yang telah melakukan pemikiran ulang (rethinking) bahkan rekontruksi terhadap paradigma ilmu dan pendidikan Islam yang sudah ada sebelumnnya, yaitu pola dan sistem pendidikan pesantren di Banten khususnya, yang saat itu masih terpaku dengan pola pendidikan Islam tradisional.

    Kepedulian Rifa’i Arief dalam mendidik umat dalam pandangan penulis berasaskan kepada realitas sosial, ketika beliau melihat kedudukan dan profesi umat Islam yang berada pada tempat-tempat yang tidak signifikan bahkan berada di pinggiran (marginal) baik dalam skala nasional maupun global.

    Uraian di atas sedikit sebanyak dapat memberikan kesimpulan mengenai Rifa’i yang penulis kategorikan sebagai tokoh yang berhasil memodernkan dan mengintegrasikan sistem pesantren dengan sistem madrasah/sekolah di Banten.

    Karya Besar Rifa’i Arief

    Berikut ini adalah pendidikan yang telah ia hasilkan selama lebih kurang 30 tahun sebagai berikut:

    Lembaga Pendidikan

    1. Pondok Pesantren Daar el-Qolam, di Desa Pasir Gintung Kecamatan Jayanti Kabupaten Tangerang Propinsi Banten.
    2. Pondok Pesantren La Tansa, di Desa Parakansantri Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak Propinsi Banten.
    3. Pondok Pesantren La Lahwa, di Desa Kemuning Kecamatan Citeuereup Kabupaten Labuan Propinsi Banten.
    4. Sekolah Tinggi Agama Islam La Tansa Mashira dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi La Tansa Mashira, di Jalan By Pass Soekarno Hatta Rangkas Bitung Banten.

    Karya Tulis

    Semasa hidupnya, Rifa’i cukup banyak menulis. Kebanyakan tulisannya adalah bahan-bahan pelajaran di pondok pesantrennya. Meskipun untuk kalangan sendiri, buku-buku Rifa’i cukup diakui oleh khalayak umum, terutama karyanya mengenai fiqh al-wârith. Adapun karya-karya tulis itu sebagai berikut dan penulis akan memberikan sekilas gambaran dari isi karya tulisnya.

    1. Mawas Diri

    Buku ini pada asalnya adalah kumpulan khutbah shalat Jumat beliau sepanjang tahun 1980 Kemudian buku ini disunting oleh murid-muridnya Yusuf Somawinata, Iwan Falahudin dan Baban Bahtiar, mereka adalah santri-santri Rifa’i yang menjadi guru di pondoknya. Mereka kemudian memberikan tajuk buku dengan salah satu tema yang ada pada buku tersebut ; Mawas Diri.

    Buku tersebut disusun secara tematik dengan tajuk-tajuk sebagai berikut :

    1. Perang Pemikiran. Dalam tulisannya itu beliau menyatakan bahawa kemunculan arus modernisasi dan globalisasi juga sistem informasi telah berdampak buruk bagi umat Islam. Secara tidak langsung perkara-perkara itu datang untuk menghancurkan ideologi umat secara perlahan tapi pasti. Selain itu perubahan yang datang dari Barat itu merupakan senjata dan strategi baru dunia Barat untuk menghancurkan ideologi Islam. Menurut Rifa’i, perang pemikiran (ghazwu al-fiqr) cenderung merusak nilai-nilai-nilai agama. Ia menegaskan hanya keimanan dan ketaqwaan yang bisa menghadapinya.
    2. Lingkaran Krisis. Inti daripada tulisan ini adalah pandangan beliau yang melihat keadaan umat Islam pada abad ke-20 yang berada pada lingkaran krisis yaitu : Krisis identitas, krisis orientasi sosial dan krisis keberanian. Rifa’i menegaskan ketika orang berbicara agama dalam pandangan mereka agama hanyalah shalat, haji dan puasa. Tetapi jarang sekali yang menghubungkan agama dengan sistem kehidupan masyarakat bahkan kehidupan bernegara, agama ditafsirkan secara sempit sehingga tidak mempunyai peranan. Padahal, tambahnya, Islam adalah tuntunan yang utuh untuk segala aspek kehidupan.
    3. Mawas Diri. Tajuk ini membincangkan tentang perlunya umat Islam untuk mengubah dirinya sendiri sebelum mengubah orang lain. Menurut Rifa’i, ajaran Islam memandang perubahan sosial mesti dimulai dari perubahan individu. Perubahan individu mesti dimulai dengan perubahan intelektual dan pengenalan syariat Islam bagi setiap individu.
    4. The Way of Life. Meskipun tajuknya berbahasa Inggeris, tetapi ia menulisnya kandungannya berbahasa Indonesia. Dalam tulisannya itu ia menegaskan bahwa al-Qur’an adalah pegangan hidup yang tidak terbantahkan lagi bagi umat Islam. Ia Juga mengkritik sebagian umat Islam yang memandang bahawa Islam hanyalah urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Sehingga umat Islam kehilangan pedoman dalam menjalankan kehidupannya.
    5. Sebaik Busana itu Pakaian Taqwa. Orang yang besar adalah orang yang mampu menaklukan hawa nafsunya dan mampu menggagalkan tipu daya dirinya. Menurut Rifa’i orang itu adalah orang yang berbusana taqwa. Ia menegaskan bahwa ketaqwaaan yang membalut tubuh seseorang membuatnya menjadi istimewa. Tanpa ketaqwaaan manusia laksana telanjang walaupun berbusana istimewa.
    6. Jual Beli dengan Allah. Dalam tulisannya ini, beliau mengilustrasikan bahwa manusia pada hakekatnya tengah melakukan kontrak jual beli dengan Allah. Ada empat hal yang maksudkan dengan kontrak dengan Allah yakni (1) Kenikmatan adalah ujian Allah bagi manusia (2) Iman adalah penyerahan mutlak atas kehendak dan pilihan seseorang kepada kehendak Allah (3) Watak iman menjadikan pandangan hidup hamba Allah berbeda dengan pandangan hidup orang-orang kafir, dan (4) Kehendak Allah bersifat mutlak.
    7. Kunci Ketentraman. Menurut beliau kunci ketentraman adalah zikir dan tafakur. Dengan kedua-duanya manusia akan terjaga dari setiap rasa gelisah dan bimbang yang senantiasa hadir dalam kehidupannya. Tanpanya manusia akan selalu berada dalam kecemasan dan ketakutan dalam menjalani kehidupan ini.
    8. Syukur Nikmah. Tulisan ini menjelaskan tentang sifat manusia yang kufur terhadap nikmat Allah. Menurut beliau, faktor utama penyebab kufur nikmah adalah ketidaktahuan manusia dari mana kenikmatan hidup itu berasal. Menurutnya lagi bahwa faktor yang kedua dari kufur nikmah adalah jiwa manusia yang telah dirusak oleh hawa nafsunya sendiri.
    9. Apa Sumbangsihmu ? Rifa’i mengingatkan masyarakatnya untuk bertanya kepada dirinya sendiri apa yang telah ia sumbangkan dalam hidup ini untuk kepentingan umum. Dalam pandangannya manusia modren telah kehilangan solidaritas terhadap sesama, akibatnya yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya, hal itu disebabkan hilanganya rasa kesetiakawanan dan persaudaraan sesama manusia.
    2. Khutbah Iftitâh

    Buku ini adalah bahan ceramah beliau yang disampaikan setiap tahun pada saat menghadapi pembukaan tahun ajaran baru. Buku ini menjadi bahan bacaan wajib bagi santri-santri baru di pondok beliau. Kandungan buku ini adalah mengenai tujuan dan orientasi pondok pesantren serta sikap yang mesti diamalkan ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Daar el-Qolam dan La Tansa. Buku ini juga menguraikan sejarah pondok pesantren, misi serta visinya.

    3. Tafsîr al-Yasîr

    Asal mula buku ini adalah bahan pengajaran pelajaran tafsîr untuk santri-santrinya yang duduk pada tahun ke 3 ( 3 SMP/MTs) . Tafsîr ini mengandungi ayat-ayat pilihan yang dijelaskan secara etimologi, terminologi serta hikmah yang ada di balik ayat.

    4. al-Farâid fi Fiqh al-Mawârith

    Di Pondok Rifa’i, para santri yang duduk pada tahun ketiga akan mempelajari ilmu warîth. Rifa’i sendiri yang menyusun buku ini. Kandungannya mengenai sejarah ilmu warîth, undang-undang yang berkaitan dengannya sampai teknik pembagian warisan.

    5. Ilm al-Sharf

    Buku ini mengenai tatabahasa Arab yang ditulis bersama santrinya yang menjadi guru kala itu Ahmad Nawasi. Buku ini diperuntukkan bagi santri tahun ke-2 dan ke-3. Buku tersebut membincangkan tentang asal usul ilmu sharf juga bentuk dan perubahan kalimat dalam bahasa Arab.

    6. Ilm al-Hadîth

    Buku ini ditulis seperti halnya buku tafsir di atas. Kandungannya adalah hadîts-hadîts Nabi pilihan. Rifa’i memberikan penjelasan hadits-hadits tersebut dalam bahasa Arab. Buku ini digunakan oleh santri di pondoknya yang duduk di tahun ke-3

    Buku-buku Rifa’i di atas tidak hanya digunakan di pondoknya saja, tetapi juga di pondok-pondok pesantren di Banten yang dikelola oleh murid-muridnya yang mendirikan pondok pesantren. Selain itu pula banyak tulisan-tulisan beliau hasil ceramah-ceramahnya semasa memimpin pondok pesantren yang belum diterbitkan.

    Beberapa Kata Hikmah Ahmad Rifa’i Arief

    Penulis merasa perlu menyampaikan sebuah sub-bab khusus mengenai beberapa catatan kata-kata hikmah beliau. Mengingat kata-kata berikut ini berasal daripada tulisan tangan beliau yang ia berikan kepada santri-santrinya angkatan ke-22 tahun 1997 M. Sebetulnya banyak lagi kata hikmah beliau yang diberikan kepada santri-santrinya. Tetapi tulisan ini mempunyai Arti khusus sebab ia adalah pesan paling terakhir beliau kepada santri senior (tahun 6). Kata-kata itu adalah sebagai berikut :

    1. Berbahagialah orang yang mampu menjadi hamba Allah yang terbaik.
    2. Bukan orang yang bijak, bila hanya pandai berbicara tetapi tidak pandai berbuat.
    3. Lebih baik mati bila hidup tak berarti dan tak berbudi.
    4. Orang yang hebat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu.
    5. Orang yang dengki tidak akan meraih kesuksesan hidup.
    6. Terlalu banyak orang yang tidak tahu bersyukur dan tidak jujur, maka jangan ditambah lagi.[13]

    Demikianlah uraian singkat mengenai perjalanan dan perjuangan Kiai Haji Ahmad Rifa’i Arief. Masa hidupnya memang hanya 55 tahun, tetapi sangat bermakna karena diisi oleh amal perbuatan yang bermanfaat bagi orang banyak, daripada usia 100 tahun tetapi tidak bermakna apa-apa. Perjalanan hidup dan perjuangannya dapat menggambarkan kepribadian serta pemikirannya mengenai sistem pendidikan pondok pesantren dan dakwah Islam di tanah Banten.


    [1] M.A. Thihami, Mengenang Kiai Rifa’i, Dlm. Soleh Rosyad, Kiprah kiai enterepreneur, 2005, LPPM La Tansa Mashira : Lebak, hal. 206.

    [2] Suparman Usman, Hukum waris: hukum kewarisan Islam,1997, Jakarta: Gayamedia

    [3] Di antara pondok-pondok yang didirikan oleh murid-murid Ahmad Rifa’i Arief : ‘Pondok Pesantren Daarul Ulum’ Lido, Bogor, Jawa Barat pimpinan K.H. Ahmad Dimyati, ‘Pondok Pesantren al-Bayan’ Rangkasbitung, Banten pimpinan KH. Eeng Nurhaeni, ‘Pondok Pesantren Ushuludin’ Lampung Sumatera pimpinan K.H. Ahmad Rafiquddin.

    [4] Gintung nama sebuah kampung yang berlokasi di Kecamatan Jayanti Kabupaten Tangerang Propinsi Banten sekitar 40 Km. dari Jakarta

    [5] Pandeglang terletak di sebelah selatan wilayah Banten. Daerah ini terkenal dengan pusat pendidikan Islam di Banten. Seperti ‘Madrasah Mathlaul Anwar’ dan ‘Madrasah Masyariqul Anwar’ selain itu pula di sini banyak berdiri pondok pesantren dan kumpulan tarekat.

    [6] Imam Zarkasyi adalah lulusan ‘ Sekolah Sumatera Thawalib’ dan Normal Islam School (1930-1936 M/1351-1356 H) Padang Panjang Sumatera Barat. Seperti diketahui bahwa Sumatera Barat adalah ‘pintu gerbang’ masuknya gerakan pembaruan (tajdîd) pemikiran Islam di Nusantara pada abad ke-19 Masehi. Di antara para ulama dan tokoh pembaru ialah Syeikh Khatib Minangkabau, Syeikh Tahir Jalaludin, Haji Rasul, Abdul Hamid Hakim, Hamka, Mahmud Yunus dan lain-lain. Oleh sebab itulah, Pesantren Gontor menggunakan sistem modren, di antaranya sistem klasikal, mengajarkan ilmu-ilmu umum selain agama. Penjelasan lebih lengkap dapat dilihat dalam Biografi K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor merintis pesantren modern, 1996, Gontor: Darussalam Press, hal.29

    [7] Labuan adalah wilayah sebelah selatan Banten. Wilayah ini berada pada pesisir laut yang membentang luas berbatasan dengan samudera Indonesia (Hindia). Labuan terkenal dengan keindahan lautnya Salah satu obyek wisata laut yang terkenal di sini adalah Tanjung Lesung sekitar 10 Km. dari pondok pesantren La Lahwa.

    [8] Peradaban yang dimaksud ialah kemajuan dalam berbagai bidang sama ada infrastruktur ataupun suprastruktur (human resources).

    [9] Soleh Rasyad, Kiprah kyai entrepreneur, LPPM La Tansa : Lebak, 2005, hal.23

    [10] Sekolah Madania berlokasi di Parung Bogor Jawa Barat Sekolah ini termasuk dalam kategori sekolah unggulan yang menggunakan sistem asrama (boarding school). Sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah terbaik di Jawa Barat. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat dalam Ismatu Rofi, Sekolah Islam untuk kaum urban: pengalaman Jakarta dan Banten, dalam Jajat Burhanudin & Dini Afrianty, Mencetak Muslim modern ; peta pendidikan Islam di Indonesia, PPIM : Jakarta, 2005, hal. 241.

    [11] Pengakuan Muhamad Wahyuni Nafis kepada penulis usai memberikan ceramah pada seminar tentang ‘masa depan pesantren dan pesantren masa depan’ di Pondok Pesantren ‘Daar el-Qolam’ 20 Januari 2005.

    [12] Warta Daar el-Qolam, kronologis wafatnya K.H. Ahmad Rifa’i Arief, Gintung : Daar el Qolam, No.I 1998, hal. 49.

    [13] Graduate ’97 in memorial 22th Kharisma 1997.

    Leave a comment

    %d bloggers like this: